Thursday, May 31, 2018

BOLEH SUAMI MENGKRITIK MASAKAN ISTRINYA NAMUN DENGAN SYARAT

Thursday, May 31, 2018 0

☝๐Ÿป๐Ÿฒ *BOLEH SUAMI MENGKRITIK MASAKAN  ISTRINYA NAMUN DENGAN SYARAT*
➖➖➖➖➖

๐ŸŽ™Syaikh Ibnul 'Utsaimin rahimahullah

☝๐Ÿป"Perkataan penulis Zaad al Mustaqni' : mencela makanan

๐Ÿ›๐Ÿ’ฅyakni mencela makanan itu *makruh (dibenci)*, karena Nabi ๏ทบ *tidak pernah sedikitpun mencela makanan.*

*☝๐ŸปJika Beliau menyukainya, beliau makan, namun bila tidak suka beliau tinggalkan.*

☝๐Ÿป๐Ÿ’ฅSehingga bila engkau mencelanya dengan mengatakan :
- makanan buatanmu asin
- teh buatanmu pahit
- kurmamu kering

☝๐Ÿป๐Ÿ’ฅmaka semua celaan ini *makruh.*

☝๐ŸปNamun bila dia hendak mengkritik makanan di hadapan keluarganya sampai mereka tidak mengulangi hal yang sama, maka yang demikian ini boleh, bahkan ini bagian dari pengajaran. Jadi, pada kondisi ini dia tidak mencela makanan, tapi mengkritik karya keluarganya."

๐Ÿ“™Asy Syarh al Mumti' 12/34

๐Ÿ“ฑhttp:/Sumber channel ukhwh

ู‚ุงู„ ุงุจู† ุนุซูŠู…ูŠู†-ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡- :

"ู‚ูˆู„ู‡: «ูˆุนูŠุจ ุงู„ุทุนุงู…» ุฃูŠ ุฃู†ู‡ ู…ูƒุฑูˆู‡، ูˆูƒุงู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ّู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ّู… ู„ุง ูŠุนูŠุจ ุงู„ุทุนุงู…، ุฅู† ุงุดุชู‡ุงู‡ ุฃูƒู„ู‡، ูˆุฅู„ุง ุชุฑูƒู‡، ุฃู…ุง ุฃู† ุชุนูŠุจู‡ ูˆุชู‚ูˆู„: ุทุนุงู…ูƒ ู…ุงู„ุญ! ูˆุดุงูŠูƒ ู…ุฑ! ูˆุชู…ุฑูƒ ุญุดู! ูู‡ุฐุง ู…ูƒุฑูˆู‡، ุฃู…ุง ุฅู† ุฃุฑุงุฏ ุฃู† ูŠุนูŠุจู‡ ุนู†ุฏ ุฃู‡ู„ู‡ ุญุชู‰ ู„ุง ูŠุนูˆุฏูˆุง ู„ู…ุซู„ ุฐู„ูƒ، ูู‡ุฐุง ุฌุงุฆุฒ، ุจู„ ู‡ูˆ ู…ู† ุงู„ุชุนู„ูŠู…، ูˆู‡ู†ุง ู„ู… ูŠุนุจ ุงู„ุทุนุงู…، ูˆู„ูƒู† ุนุงุจ ุตู†ุนุฉ ุฃู‡ู„ู‡."

๐Ÿ“šุงู„ุดุฑุญ ุงู„ู…ู…ุชุน 12/34

●~~~~●●※※๐Ÿ’ฅ๐Ÿ›๐Ÿ’ฅ※※●●~~~~●

Monday, May 28, 2018

TAHAN “DOA JELEKMU”, WAHAI IBU..

Monday, May 28, 2018 0


Oleh : Ustadz dr. Raehanul Bahraen
    
ุจِุณْู…ِ ุงู„ู„َّู‡ِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุงู„ุฑَّุญِูŠู…ِ

Ketika mendidik anak, bisa jadi orang tua khususnya ibu tidak sengaja berkomentar jelek kepada anaknya ketika muncul rasa tidak sabar kepada anak-anaknya

"Dasar anak nakal, kalau besar bisa jadi preman nanti"

"Anak ini memang suka melawan, bisa 'jadi orang' tidak kalau sudah gede?"

"Sering bikin jengkel saja, awas bisa sial seumur hidup"

Atau mendoakan jelek anaknya:

"Anak ini tidak tahu diri, semoga sial seumur hidupnya."

Hendaknya ayah dan ibu menahan diri dari berkomentar jelek atau mendoakan kejelekan. Karena doa kejelekan orang tua pada anaknya juga mustajab/terkabul

ุซَู„ุงَุซُ ุฏَุนَูˆَุงุชٍ ู…ُุณْุชَุฌَุงุจَุงุชٌ ู„َู‡ُู†َّ ู„ุงَ ุดَูƒَّ ูِูŠْู‡ِู†َّ ุฏَุนْูˆَุฉُ ุงู„ْู…َุธْู„ُูˆْู…ِ ูˆَุฏَุนْูˆَุฉُ ุงู„ْู…ُุณَุงูِุฑِ ูˆَุฏَุนْูˆَุฉُ ุงู„ْูˆَุงู„ِุฏَูŠْู†ِ ุนَู„ู‰َ ูˆَู„َุฏِู‡ِู…َุง

"Ada tiga jenis doa yang mustajab (terkabul), tidak diragukan lagi, yaitu doa orang yang dizalimi, doa orang yang bepergian dan doa kejelekan kedua orang tua kepada anaknya."[1]

Syaikh Bin Baz menjelaskan bahwa doa orang tua yang jelek bisa terkabulkan, beliau berkata:

ูŠุฎุดู‰ ู…ู† ุงู„ุงุณุชุฌุงุจุฉ، ููŠู†ุจุบูŠ ุงู„ุญุฐุฑ، ูŠู†ุจุบูŠ ุฃู† ู„ุง ุชุฏุนูˆ ุนู„ูŠู‡ู… ุฅู„ุง ุจุงู„ุฎูŠุฑ،

"Dikhawatirkan akan terkabul (doa orang tua yang jelek kepada anaknya), hendaknya orang tua hati-hati. Tidaklah ia berdoa kecuali doa kebaikan saja."[2]

Kita bisa lihat kisah yang shahih terjadi di masa lalu yaitu kisah seorang ahli ibadah bernama Juraij, beliau sedang asyik beribadah kemudian ibunya memanggil, ia lebih memilih melanjutkan sebentar shalatnya daripada memenuhi panggilan ibunya. Akhirnya karena tidak dijawab-jawab, sang ibu agak kesal sambil mendoakan keburukan kepada Juraij,

ู„ุงَ ุฃَู…َุงุชَูƒَ ุงู„ู„ู‡ُ ูŠَุง ุฌُุฑَูŠْุฌُ! ุญَุชู‰َّ ุชَู†ْุธُุฑَ ูِูŠ ูˆَุฌْู‡ِ ุงู„ู…ُูˆْู…ِุณَุงุชِ

"Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai wajahmu dipertontonkan di depan para pelacur."[3]

Doa sang ibu terkabulkan, setelahnya Juraij mendapatkan fitnah kasus dengan seorang pelacur.

Bagaimanapun juga doa kejelekan adalah tidak baik, apapun itu dan ada larangannya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

ู„ุง ุชَุฏْุนُูˆุง ุนَู„َู‰ ุฃَู†ْูُุณِูƒُู…ْ ูˆَู„َุง ุชَุฏْุนُูˆุง ุนَู„َู‰ ุฃَูˆْู„َุงุฏِูƒُู…ْ ูˆَู„َุง ุชَุฏْุนُูˆุง ุนَู„َู‰ ุฃَู…ْูˆَุงู„ِูƒُู…ْ ู„َุง ุชُูˆَุงูِู‚ُูˆุง ู…ِู†ْ ุงู„ู„ู‡ِ ุณَุงุนَุฉً ูŠُุณْุฃَู„ُ ูِูŠู‡َุง ุนَุทَุงุกٌ ูَูŠَุณْุชَุฌِูŠุจُ ู„َูƒُู…ْ

"Jangan kalian mendoakan kejelekan atas diri kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas anak-anak kalian. Jangan kalian mendoakan kejelekan atas harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah Subhanahu wa ta'ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan bagi kalian."[4]

ูˆุจุงู„ู„ู‡ ุงู„ุชูˆููŠู‚ ูˆุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ู‰ ู†ุจูŠู†ุง ู…ุญู…ุฏ ูˆุขู„ู‡ ูˆุตุญุจู‡ ูˆุณู„ู…

@Markaz YPIA, Yogyakarta tercinta

Penyusun: Raehanul Bahraen

[1] Diriwayatkan oleh Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrod no. 32. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrod no. 24


[3] HR. Bukhari dan Muslim

[4] HR. Muslim
_________________________________________
MuslimAfiyah, Tsulasa 22 Shofar 1438 / 22 November 2016

Sunday, May 6, 2018

Seputar Mandi Wajib

Sunday, May 6, 2018 0


Seputar Mandi Wajib
Penyusun : Abu Salma al-Atsary

Definisi :
al-Ghaslu ุงู„ุบุณู„ artinya adalah ุชุนู…ูŠู… ุงู„ุจุฏู† ุจุงู„ู…ุงุก membasahi seluruh tubuh dengan air

Dalilnya :
1)    Firman Allah Ta'ala : ( ูˆุฅู† ูƒู†ุชู… ุฌู†ุจุงً ูุงุทู‡ุฑูˆุง)"Jika kamu dalam keadaan junub maka bersucilah" (al-Maidah : 6)
2)    Firman Allah Ta'ala : ูˆูŠุณุฃู„ูˆู†ูƒ ุนู† ุงู„ู…ุญูŠุถ ู‚ู„ ู‡ูˆ ุฃุฐู‰ ูุงุนุชุฒู„ูˆุง ุงู„ู†ุณุงุก ููŠ ุงู„ู…ุญูŠุถ ูˆู„ุง ุชู‚ุฑุจูˆู‡ู† ุญุชู‰ ูŠุทู‡ุฑู† "Mereka bertanya kepadamu tentang darah haidh, katakan bahwa darah haidh itu kotor, maka jauhilah wanita-wanita yang sedang haidh janganlah kau dekati mereka hingga mereka suci. (al-Baqoroh : 222)

Penyebab Wajibnya Mandi :
1)    Keluarnya mani baik dalam keadaan terjaga maupun dalam keadaan tertidur.
2)    Jima (bersenggama) walaupun tidak keluar mani.
3)    Seorang kafir yang baru masuk islam.
4)    Berhentinya haidh dan nifas.

Dalilnya :
1)    Wajib mandi jika keluar mani baik dalam keadaan terjaga maupun tidur. Berdasarkan hadits Ummu Salamah bahwasanya Ummu Sulaim berkata : Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran, apakah wajib bagi wanita mandi jika mereka bermimpi?" Rasulullah menjawab : ู†ุนู… ุฅุฐุง ุฑุฃุช ุงู„ู…ุงุก "Iya jika dia melihat adanya air" (Muttafaq 'alaihi)
2)    Jima' walaupun tidak sampai keluar mani maka wajib mandi berdasarkan hadits Abu Hurairoh ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ berkata : Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bersabda : ุฅุฐุง ู‚ุนุฏ ุจูŠู† ูˆุฅู† ู„ู… ูŠู†ุฒู„ ุดุนุจูŠู‡ุง ุงู„ุฃุฑุจุน ุซู… ุฌู‡ุฏู‡ุง ูู‚ุฏ ูˆุฌุจ ุงู„ุบุณู„ "Jika seseorang duduk di antara cabang yang empat dan ia bersungguh-sungguh di atasnya maka wajib baginya mandi walaupun tidak sampai keluar" muttafaq 'alaihi dengan tambahan lafazh ูˆุฅู† ู„ู… ูŠู†ุฒู„ dari Muslim.
3)    Seorang Kafir baru masuk islam wajib mandi berdasarkan riwayat Qais bin 'Ashim bahwasanya beliau masuk islam dan nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… memerintahkannya untuk mandi dengan air dan bidara. (Shahih diriwayatkan Nasa'i, Turmudzi dan Abu Dawud)
4)    Berhenti haidh dan nifas wajib mandi berdasarkan hadits Aisyah, bahwasanya nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… berkata kepada Fathimah binti Abi Hubaisy : "Jika datang haidh maka tinggalkan sholat dan jika telah lewat maka mandilah dan sholatlah (Muttafaq alaihi). Dan Nifas hukumnya sama dengan haidh menurut ijma

Rukunnya :
1)    Niat.
2)    Membasahi seluruh badan dengan air.

Kaifiyat (cara)nya :
1)    Membasuh kedua telapak tangan sampai pergelangan tangan tiga kali.
2)    Mencuci kemaluan dan sekitarnya.
3)    Berwudlu secara sempurna sebagaimana wudlu akan sholat dan mengakhirkan membasuh kakinya hingga selesai mandi.
4)    Menyiramkan air ke kepala tiga kali sambil menyela-nyelai rambut agar air mengenai ke kulit kepala.
5)    Menyiramkan air ke seluruh tubuh yang dimulai dari bagian kanan kemudian bagian kiri dengan cara dipijat/ditekan sampai sela-sela jari jemari dan kedua lubang telinga.
6)    Membasuh kedua kaki.

Dalilnya :

ู…ุง ุฌุงุก ุนู† ุงุฆุดุฉ ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ุง ุฃู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูƒุงู† ุฅุฐุง ุงุบุชุณู„ ู…ู† ุงู„ุฌู†ุงุจุฉ ุจุฏุฃ ููŠุบุณู„ ูŠุฏูŠู‡ ุซู… ูŠูุฑุบ ุจูŠู…ูŠู†ู‡ ุนู„ู‰ ุดู…ุงู„ู‡ ููŠุบุณู„ ูุฑุฌู‡ ุซู… ูŠุชูˆุถุฃ ูˆุถูˆุกู‡ ู„ู„ุตู„ุงุฉ ุซู… ูŠุฃุฎุฐ ุงู„ู…ุงุก ูˆูŠุฎู„ ุฃุตุงุจุนู‡ ููŠ ุฃุตูˆู„ ุงู„ุดุนุฑ ุญุชู‰ ุฅุฐุง ุฃู†ู‡ (ุงุณุชุจุฑุฃ ุญู‚ู† ุนู„ู‰ ุฑุฃุณู‡ ุซู„ุงุซ ุญุซูŠุงุช ุซู… ุฃูุงุถ ุนู„ู‰ ุณุงุฆุฑ ุฌุณุฏู‡) ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ ูˆู…ุณู„ู… ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ุจุฏุฃ ุจุดู‚ ุฑุฃุณู‡ ุงู„ุฃูŠู…ู† ุซู… ุงู„ุฃูŠุณุฑ. ูˆูƒุฐู„ูƒ ุญุฏูŠุซ ู…ูŠู…ูˆู†ุฉ ููŠ ุงู„ุจุฎุงุฑูŠ

Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah bahwasanya Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… jika mandi janabah beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya yang diawali dengan tangan kanannya kemudian tangan kirinya, kemudian beliau membasuh kemaluannya dan berwudlu sebagaimana wudlunya akan sholat. Kemudian beliau mengambil air sembari memasukkan jari-jemarinya (menyelai-nyelai) kulit kepalanya sampai beliau memandang bahwa kulit kepalanya telah basah, lantas beliau mengguyur kepalanya dengan tiga gayung air, setelah itu beliau menyiram seluruh tubuhnya. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, di dalam riwayat lainnya beliau memulai dengan menyelai-nyelai kepala bagian kanan kemudian kirinya. Demikian hadits Maimunah yang diriwayatkan Bukhari.
 

Masalah 1 :
Tentang kesepakatan ulama di dalam hal-hal yang mewajibkan mandi janabat.
Para ulama bersepakat bahwa mani yang keluar dengan syahwat maka wajib mandi baik laki-laki maupun wanita, baik ketika terjaga maupun tidur. Demikian pula wajib bagi wanita yang selesai dari haidh dan nifas untuk mandi.

Dalilnya :
Firman Allah Taala : ูุฅุฐุง ุชุทู‡ุฑู† ูุฃุชูˆู‡ู† "Jika mereka telah suci maka datangilah mereka"
Hadits Fathimah binti Abi Hubaisy : ุฏุนูŠ ุงู„ุตู„ุงุฉ ู‚ุฏุฑ ุงู„ุฃูŠุงู… ุงู„ุชูŠ ูƒู†ุช ุชุญูŠุถูŠู† ููŠู‡ุง ุซู… ุงุบุชุณู„ูŠ ูˆุตู„ูŠ "Aku meninggalkan sholat beberapa hari di kala aku sedang haidh kemudian aku mandi dan aku sholat (di saat telah berhenti dari haidh) Muttafaq alaihi.

Masalah 2 :
Mani yang keluar bukan karena syahwat
Para ulama berbeda pendapat tentang mani yang keluar bukan karena syahwat, seperti karena sakit atau karena dingin, menjadi dua pendapat.
Pendapat pertama : Tidak wajib mandi sebagaimana pendapatnya Imam Malik dan Abu Hanifah
Pendapat kedua : Wajib mandi sebagaimana pendapatnya Imam Syafii.
Dalil Pendapat Pertama :
1)    Bahwasanya Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… mensifati mani yang wajib mandi adalah yang berwarna putih kental sebagaimana di dalam hadits Ummu Sulaim yang diriwayatkan Muslim bahwasanya beliau bertanya kepada Nabiullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… tentang seorang wanita yang melihat di dalam mimpinya sebagaimana apa yang dilihat oleh seorang lelaki. Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… menjawab : ุฅุฐุง ุฑุฃุช ุฐู„ูƒ ุงู„ู…ุฑุฃุฉ ูู„ุชุบุชุณู„ "Jika wanita melihatnya (mani, pent.) maka wajib atasnya mandi". Syahid dari hadits di atas adalah bahwasanya mani keluar dengan syahwat.
2)    Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud secara marfu' : ุฅุฐุง ุฑุฃูŠุช ูุถุฎ ุงู„ู…ุงุก ูุงุบุชุณู„ูŠ "Jika seorang wanita melihat air yang memancar maka hendaknya mandi". Dan ุงู„ูุถุฎ keluarnya dengan kuat.
3)    Hadits nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… yang berbunyi : Jika air keluar dengan memancar maka wajib mandi janabat dan jika tidak memancar tidak wajib mandi. (Hasan Shahih di dalam Irwaul Ghalil). Imam Syaukani berkata : Memancar adalah menyembur, dan tidaklah akan demikian jika tidak disertai syahwat. Oleh karena itu Syaikh Abdul Azhim Badawi berkata : Di dalam hadits ini terdapat peringatan tentang mani yang keluar karena bukan syahwat baik dikarenakan sakit ataupun dingin maka tidak wajib mandi.
Dalil Pendapat Kedua :
1)    Hadits Ummu Sulaim, beliau berkata : Apakah wajib bagi seorang wanita mandi jika dia bermimpi? Maka nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… menjawab : ู†ุนู… ุฅุฐุง ู‡ูŠ ุฑุฃุช ุงู„ู…ุงุก "Iya jika ia melihat adanya air" Muttafaq 'alaihi.
2)    Hadits Abu Sa'id al-Khudri beliaui berkata : Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bersabda : ุงู„ู…ุงุก ู…ู† ุงู„ู…ุงุก "air (untuk mandi) karena air (mani)" Diriwayatkan oleh Muslim.
Yang Rajih (kuat) adalah pendapat pertama, yaitu tidak wajib baginya mandi.
Bantahan terhadap hadits pertama adalah, sesungguhnya hadits tersebut menunjukkan mani yang keluar di saat mimpi adalah dengan syahwat.
Bantahan terhadap hadits kedua adalah, sesungguhnya hadits tersebut mansukh karena Abu Hurairoh ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ berkata : Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bersabda : ุฅุฐุง ู‚ุนุฏ ุจูŠู† ุดุนุจูŠู‡ุง ุงู„ุฃุฑุจุน ุซู… ุฌู‡ุฏู‡ุง ูู‚ุฏ ูˆุฌุจ ุงู„ุบุณู„ "Jika seseorang duduk di antara cabang yang empat dan ia bersungguh-sungguh di atasnya maka wajib baginya mandi" Muttafaq 'alaihi. Dan dalam riwayat Muslim terdapat tambahan : ูˆุฅู† ู„ู… ูŠู†ุฒู„ "Walaupun tidak sampai keluar (mani)".
Syahid dari hadits di atas adalah : Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… mewajibkan mandi walaupun tidak sampai keluar (mani). Wallahu a'lam.

Masalah 3 :
Bermimpi namun tidak melihat adanya air (tidak basah)
Barangsiapa bermimpi namun dia tidak mendapatkan air (mani) maka tidak wajib mandi janabat, dan barangsiapa tidak ingat telah bermimpi namun mendapatkan air maka wajib atasnya mandi.
Dalilnya :
Dari Aisyah beliau berkata, "Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ditanya tentang seorang lelaki yang mendapatkan basah namun ia tidak ingat telah bermimpi, maka beliau menjawab : dia wajib mandi. Beliau juga ditanya tentang seorang lelaki yang mengingat dirinya bermimpi namun dia tidak mendapatkan basah, maka beliau menjawab : dia tidak wajib mandi. (Shahih, diriwayatkan Abu Dawud dan Turmudzi).

Masalah 4 :
Perkataan ulama tentang menggosok tubuh dengan air ketika mandi.
Para ulama berbeda pendapat tentangnya menjadi dua pendapat : 
Pendapat pertama : Menggosok hukumnya wajib menurut Malikiyah dan al-Muzanni dari kalangan Syafiiyah.
Pendapat kedua : Menggosok tidak wajib hukumnya, dan ini adalah pendapat jumhur.
Dalil pendapat pertama :
Hadits Abu Hurairoh ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ yang berbunyi : ุชุญุช ูƒู„ ุดุนุฑุฉ ุฌู†ุงุจุฉ ูุจู„ูˆุง ุงู„ุดุนุฑ ูˆุฃู†ู‚ูˆุง ุงู„ุจุดุฑุฉ "Setiap bagian rambut terdapat janabah maka basahilah rambut dan ratakan seluruhnya" diriwayatkan oleh Turmudzi, Abu Dawud dan Ibnu Majah.
Sisi pendalilannya : bahwasanya ุงู„ุฃู†ู‚ุงุก (meratakan) tidak tidak menghasilkan ุงู„ุฅูุงุถุฉ (membasahi) namun menghasilkan ุงู„ุชุฏู„ูŠูƒ (memijat/menggosok).
Dalil Pendapat kedua : 
1)    Hadits Aisyah yang di dalamnya terdapat lafazh : ุซู… ุฃูุงุถ ุงู„ู…ุงุก ุนู„ู‰ ุณุงุฆุฑ ุฌุณุฏู‡ "kemudian mengguyur seluruh tubuhnya dengan air". Muttafaq 'alaihi.
2)    Hadits Maimunah yang berbunyi : ุซู… ุฃูุฑุบ ุนู„ู‰ ุฌุณุฏู‡ "Kemudian menuangkan ke atas tubuh". Riwayat Muslim.
3)    Hadits Ummu Salamah, beliau berkata : ูŠุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุฅู†ูŠ ุฃู…ุฑุฃุฉ ุฃุดุฏ ุถูุฑ ุฑุฃุณูŠ ุฃูุฃู†ู‚ุถู‡ ู„ุบุณู„ ุงู„ุฌู†ุงุจุฉ ู‚ุงู„ ู„ุง ุฅู†ู…ุง ูŠูƒููŠูƒ ุงู† ุชุญุซูŠ ุนู„ู‰ ุฑุฃุณูƒ ุซู„ุงุซ ุญุซูŠุงุช ุซู… ุชููŠุถูŠ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู…ุงุก ูุชุทู‡ุฑูŠู† "Wahai Rasulullah sesungguhya aku adalah wanita yang lebat rambutnya, apakah perlu aku menguraikan rambutku ketika mandi janabat?" beliau menjawab, "Tidak, sesungguhnya telah mencukupi kau mengguyurnya dengan tiga cidukan air kemudian ratakan maka kau telah bersuci."
Sisi pendalilannya : Bahwasanya hadits Aisyah dan hadits Maimunah tidak menyebutkan di dalamnya tentang ุงู„ุชุฏู„ูŠูƒ (memijat/menggosok), sesungguhnya yang disebutkan di dalamnya adalah ุฅูุฑุงุบ ุงู„ู…ุงุก (menuangkan air) yang kalimatnya datang dalam bentuk ุงู„ุญุตุฑ pembatasan dengan kata (ุฅู†ู…ุง). Pembatasan ini menunjukkan bahwa ุงู„ุชุฏู„ูŠูƒ (memijat) tidaklah wajib, dan jika seandainya wajib maka niscaya akan diperintahkan untuk melakukannya.
Yang Rajih adalah pendapat jumhur dikarenakan kuatnya dalilnya.

Masalah 5 :
Batasan dikatakan jima' (bersenggama)
Yang dimaksud denga jima' adalah 'bertemunya dua khitan' walaupun tidak sampai keluar mani. Dan batasan khitan bagi pria adalah kepala penis dan bagi wanita adalah daging yang tumbuh di bagian atas vagina (clitoris). Jadi batasan jima' adalah bila kepala farji pria telah hilang (tidak tampak) masuk di dalam farji wanita. Jika hanya menggesek di permukaan farji wanita maka belum masuk ke dalam batasan jima'.
Jika seseorang melakukan รญstimta' (bersenang-senang) dengan isteri tidak sampai memasukkan farjinya hanya menggesek-gesekkan saja, namun keluar mani, maka wajib mandi wajib dari sisi keluarnya mani dengan syahwat bukan dari sisi jima'.

Masalah 6 : 
Wajibkah bagi wanita yang panjang rambutnya menguraikan rambutnya?
Pendapat yang rajih adalah wajib bagi wanita yang mandi karena haidh agar menguraikan rambutnya namun tidak wajib menguraikan rambutnya bagi wanita yang mandi janabat.
Dalilnya :
Sifat mandi janabah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, Maimunah dan Ummu Salamah yang telah lewat penyebutannya.
Sifat mandi wajib karena haidh adalah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah, suatu ketika Asma' bertanya kepada nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… tentang mandi haidh, beliau menjawab : "Ambillah air dan bidara dan bersihkanlah (farjimu) dengan sebersih-bersihnya, kemudian siramlah kepalamu dan gosoklah dengan kuat hingga mengenai seluruh bagian kepalamu, lalu siramlah dengan air. Setelah itu ambillah kapas yang dicelup wewangian dan sucikanlah dengannya." Asma' berkata : "Bagaimana bersuci dengannya?" Nabi menjawab : "Maha suci Allah bersucilah dengannya!" Aisyah berkata seakan-akan ia kawatir dengan akan tampaknya bekas darah.
Hadits ini merupakan dalil yang terang tentang perbedaan mandi janabat dengan mandi haidh, dimana pada mandi haidh nabi memberikan porsi tersendiri yang lebih menekankan pensuciannya dengan menggosok kepala dan menguraikan rambut, sedangkan tidak demikian pada mandi janabat. Hadits Ummu Salamah menunjukkan sifat mandi janabah yang tidak wajib menguraikan rambut. Secara asal, menguraikan rambut adalah sebagai peyakin supaya kulit kepala bisa terkena air namun hal ini dimaafkan pada saat mandi janabat karena intensitas mandi janabat relatif berulang-ulang dan karena timbulnya kesukaran yang sangat bagi wanita untuk menguraikan rambutnya setiap akan mandi janabat. Berbeda dengan mandi haidh karena hanya dilakukan sekali sebulan. (Tahdzib Sunan Abu Dawud oleh Ibnul Qoyyim (I/167/166) dengan sedikit perubahan).

Maraji' :
1.    Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah karya Syaikh Abdul Azhim Badawy, Kitaab ath-Thohaaroh, Bab al-Ghaslu, hal. 44-46
2.    Marshd as-Salafiy as-Sudaaniy, Bab al-Ghoslu, oleh Ustadz Husain Jailani.
3.    Muhadharah Fiqh oleh al-Ustadz Ahmad Sabiq, Lc. di Ma'had as-Sunnah Surabaya (4 Muharam 1426/13 September 2005)
 
Catatan Damar. Design by Pocket - Fixed by Blogger templates