Tuesday, January 16, 2018

Membuat Anakmu Sholat Tanpa Debat, Keringat, Urat, & Pengingat

Tuesday, January 16, 2018 0

"Bagaimana Membuat Anak-anak Anda Sholat dengan Kesadaran Mereka Sendiri Tanpa Berdebat dan
Tanpa Perlu Diingatkan .. ?

Anak-anak anda tidak mau sholat .. ? 
atau mereka sampai membuat anda capek saat mengingatkan
untuk sholat .. ?

Mari kita lihat bagaimana kita bisa merubah ini semua ~ biidznillah

""Seorang sahabat
berkisah : "Aku akan menceritakan satu kisah yang terjadi
padaku. "

""Saat itu, anak perempuanku duduk di kelas 5 SD. Sholat baginya adalah hal yang sangat berat sampai sampai suatu hari aku berkata kepadanya :

"Bangun .. !! Sholat .. !!",
dan aku mengawasinya.

"Aku melihatnya mengambil sajadah, kemudian melemparkannya ke lantai. 

Kemudian ia mendatangiku, Aku bertanya kepadanya : "Apakah kamu sudah sholat .. ?"

Ia menjawab : "Sudah"

Kemudian aku Mencubitnya.

Aku tahu aku salah.

Tetapi kondisinya memang
benar-benar sulit, Aku menangis.

Aku benar-benar marah padanya, aku rendahkan dia dan aku menakut-nakutinya akan siksa Allah.

Tapi, ternyata semua kata-kataku itu tidak ada manfaatnya.

Suatu hari, seorang sahabatku bercerita suatu kisah.

""Suatu ketika ia berkunjung ke rumah seorang kerabat dekatnya, ketika datang waktu sholat, semua anak-anaknya langsung bersegera melaksanakan sholat tanpa diperintah.

Ia berkata :

Aku berkata padanya "Bagaimana anak-anakmu bisa sholat dengan kesadaran mereka tanpa berdebat dan tanpa perlu diingatkan  ?

"Ia menjawab :

Demi Allah, aku hanya ingin
mengatakan padamu bahwa sejak jauh sebelum aku menikah aku selalu memanjatkan DO'A ini dan sampai saat ini pun aku masih tetap berdo'a dengan DO'A tersebut.

Setelah aku mendengarkan nasehatnya, aku selalu tanpa henti berdoa dengan do'a ini. 

Dalam sujudku. 

Saat sebelum salam.

Ketika witir. 

Dan disetiap waktu-waktu mustajab. 

Demi Allah wahai saudara-saudaraku. 

Anakku saat ini telah duduk dibangku SMA.

Sejak aku memulai berdoa dengan doa itu, anakku lah yang rajin membangunkan kami dan mengingatkan
kami untuk sholat.

Dan adik-adiknya, Alhamdulillah, mereka semua selalu menjaga sholatnya sampai-sampai, saat ibuku berkunjung dan menginap di rumah kami, ia tercengang melihat anak perempuanku bangun pagi, kemudian membangunkan kami satu persatu untuk sholat.

❇Aku tahu anda semua penasaran ingin
mengetahui doa apakah itu?

Yaaa, doa ini ada di QS.Ibrahim : 40

ﺭﺏ ﺍﺟﻌﻠﻨﻲ ﻣﻘﻴﻢ ﺍﻟﺼﻼﺓ ِ ﻭَﻣِﻦ ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎﺀ )

Rabbij'alni muqimas salati wamin zurriyati rabbana wataqobbal du'a.

"Ya Robbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan
sholat, Ya Robb kami , perkenankanlah doaku."

(QS. Ibrahim : 40 )

♻Yaa .. Doa .. Doa .. dan Doa ..

Sebagaimana anda semua tahu bahwa doa adalah senjata seorang mukmin.

"Kirimkan tulisan ini agar lebih banyak orang yang mengambil manfaat.

"Semoga Allah merahmati orang yang bersedia men-share (tulisan ini), kemudian menjadikannya pemberat bagi timbangan kebaikannya."

Aamiin.

☑Baca selalu doa ini untuk anak-anakmu, biidznillah mereka akan selalu berada dalam penjagaan dan perlindungan Allah Ta'ala .. Aamiin.

Allaahumma Aamiin.

Jangan hanya dibaca sendiri, yuuu' sebarkan dan rasakan manfaat kebaikan demi kebaikan.

Sunday, January 14, 2018

DAFTAR LINK REKAMAN DARS BAHASA ARAB DAN MUTHALA'AH KITAB ULAMA

Sunday, January 14, 2018 4

-------------------------
1. *Al Muyassar Fii ilmi Nahwi jilid 1*




2. *Al Muyassar Fii ilmi Nahwi jilid 2*


3. *Al Muyassar Fii ilmi Nahwi jilid 3*


4. *Al Kaafi fii ilmi sharfi jilid 1*

Link: 

5. *Al Kaafi fii ilmi sharfi jilid 2*


6. *Al Kaafi fii ilmi sharfi jilid 3*


7. *Mulakhos Qowaidul Lughoh Al Arobiyyah Juz 1*


8. *Mulakhos Qowaidul Lughoh Al Arobiyyah Juz 2*


Link lain mulakhos:
Bag 2:
Bag 3:

9. *Al Mumti Fii Syarhil Al Ajurumiyyah*


Link lain

10. *At tuhfah wushobiyyah Fii tashil matnil Ajurumiyyah*


11. *Syarah Qotrun Nada*


12. *Syarah Syudzur Dzahab*


13. *أوضح المسالك إلى ألفية ابن مالك*


14. *Syarah Manzhumah Mimiyyah fii Washoya wal Adab 'Ilmiyyah*


15. *منظومة القواعد الفقهية*


16. *شرح منظومة اصول الفقه وقواعده*


17. *قواعد الأحكام في إصلاح الأنام*


18. *شرح المنظومة الحائية في عقيدة أهل السنة والجماعة*


19. *شرح الفرائد البهية*


20. *بهجة قلوب الأبرار وقرة عيون الأخيار في شرح جوامع الأخبار*


❇Semoga Bermanfaat, silahkan disebarkan, Barakallahufikum❇

src: fb

Sunday, January 7, 2018

Jika Allah bersemayam di atas arsy berarti Allah butuh tempat

Sunday, January 7, 2018 0
Jika Allah bersemayam di atas arsy berarti Allah butuh tempat. Padahal yang butuh tempat adalah makhluk.

Lihatlah pernyataan ini..
Ia ingin mensucikan Allah dari menyerupai makhluk..
namun jatuh kepada menyerupakan Allah dengan makhlukNya yaitu ucapan dia: Jika Allah bersemayam di atas arasy berarti Allah butuh tempat.
konsekwensi seperti ini akibat ia menyerupakan Allah dengan makhlukNya yang apabila berada di suatu tempat maka ia membutuhkan tempat itu.
Padahal bersemayamnya Allah di atas arasy sesuai dengan keagunganNya dan tidak serupa dengan makhlukNya. 
Sebagaimana Allah melihat dengan penglihatan yang tidak serupa dengan makhlukNya, maka bersemayamNya pun tidak serupa dengan makhlukNya.

Lebih parah lagi, ketika ia menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Ia pun meniadakan sifat istiwa di atas arasy karena menurut akalnya itu serupa dengan makhlukNya..

Padahal Allah disifati dengan mendengar dan makhlukpun mendengar. Apakah berarti pendengaran Allah serupa dengan pendengaran makhlukNya?

Allah memiliki kehendak, dan manusiapun memiliki kehendak. Apakah serupa kehendak Allah dengan makhlukNya?

Allah hidup dan hambapun disifati hidup. Apakah sama hidup Allah dengan hidup makhlukNya?

Bila semua itu jawabannya Allah mendengar, berkehendak dan hidup namun mendengar, kehendak dan hidup Allah tidak serupa dengan makhlukNya.
Maka katakan itu juga terhadap sifat istiwa Allah di atas ArasyNya. Karena tidak ada perbedaan antara sifat ini dengan sifat yang tadi dalam menetapkannya.

Makna Fitnah Lebih Kejam dari Pembunuhan


👤Muhammad Abduh Tuasikal, MSc  

👉Apa yang dimaksud dengan fitnah lebih kejam dari pembunuhan?

⛔Sebagian orang ternyata salah memahami istilah Al-Qur'an "fitnah lebih kejam dari pembunuhan". Dinilai bahwa fitnah yang dimaksud dalam ayat adalah memfitnah orang, mengisukan yang tidak benar.

📖Menurut kamus bahasa Indonesia, fitnah adalah perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang. Sedangkan memfitnah adalah menjelekkan nama orang (menodai nama baik, merugikan kehormatan, dan sebagainya).

👉Ayat yang membicarakan "fitnah lebih kejam dari pembunuhan" adalah,

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّى يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ كَذَلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

"Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), maka bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir." (QS. Al-Baqarah: 191)

👉Coba kita lihat makna fitnah dalam ayat apakah sama seperti yang dipahami oleh sebagian kita.


👤💬UIama tafsir terkemuka, Imam Ath-Thabari menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah di sini adalah perbuatan syirik. Sehingga dikatakan bahwa syirik lebih besar dosanya dari pembunuhan.

👤💬Imam Ath-Thabari juga menjelaskan bahwa asal makna dari fitnah adalah al-ibtila' dan al-ikhtibar yaitu ujian atau cobaan. Sehingga maksud ayat kata Ibnu Jarir Ath-Thabari,

وابتلاء المؤمن في دينه حتى يرجع عنه فيصير مشركا بالله من بعد إسلامه، أشد عليه وأضر من أن يقتل مقيما على دينه متمسكا عليه، محقا فيه

"Menguji seorang mukmin dalam agamanya sampai ia berbuat syirik pada Allah setelah sebelumnya berislam, itu lebih besar dosanya daripada memberikan bahaya dengan membunuhnya sedangkan tetap terus berada dalam agamanya."

Ada riwayat dari Muhammad bin 'Amr, telah menceritakan dari Abu 'Ashim, telah menceritakan dari 'Isa bin Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata mengenai ayat 'fitnah lebih parah dari pembunuhan', "Membuat seorang mukmin kembali menyembah berhala (murtad) lebih dahsyat bahayanya dibanding dengan membunuhnya."

👤💬Qatadah juga menyatakan, "Syirik lebih dahsyat dari pembunuhan." Ar-Rabi' dan Adh-Dhahak mengungkapkan hal yang sama seperti Qatadah. Ibnu Zaid menyatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat adalah fitnah kekafiran (yaitu membuat orang kafir). (Tafsir Ath-Thabari, 2: 252-253)

👉Sehingga yang dimaksud dengan fitnah dalam ayat ini adalah syirik. Dan membuat orang terjerumus dalam kesyirikan lebih dahsyat dosanya dari membunuhnya.  

🔒Kita dapat simpulkan pula bahwa kata fitnah dalam bahasa kita ternyata berbeda maksudnya dengan kata fitnah dalam Al-Qur'an atau bahasa Arab yang maknanya lebih luas.

👉Moga kita semakin diberi tambahan ilmu dalam memahami Al-Qur'an.


Referensi:

Jami' Al-Bayan 'an Ta'wil Ayi Al-Qur'an (Tafsir Ath-Thabari). Cetakan pertama, tahun 1423 H. Al-Imam Abu Ja'far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Penerbit Dar Ibnu Hazm.


@ Darush Sholihin, Panggang, Gunungkidul, 13 Rabi'uts Tsani 1437 H

Oleh Al-Faqir Ila Maghfirati Rabbihi: Muhammad Abduh Tuasikal

Rumaysho.Com


Thursday, January 4, 2018

Allah diatas..

Thursday, January 4, 2018 0
* Hammad bin Zaid pernah mendengar Ayyub As Sikhtiyani rahimahullah berkata tentang Mu'tazilah:

إنما مدار القوم على أن يقولوا ليس في السماء شيء

"Mu'tazilah adalah asal muasal kaum yang menyatakan bahwa di atas langit tidak terdapat sesuatu apapun". [ Al 'Uluw Lil 'Aliyyil Ghoffar ]

Ini artinya, berkonsekuensi pada pemahaman bahwa Allah tidak di atas langit, tidak istiwa' di atas 'Arsy.

* Abul Mu'thi Al Hakam bin 'Abdillah Al Balkhiy --penulis Kitab Al Fiqh Al Akbar -- , berkata:

Aku bertanya pada Abu Hanifah mengenai seseorang yang mengatakan, 'Aku tidak tahu dimanakah Rabb-ku, di langit ataukah di bumi?'

Imam Abu Hanifah pun menegaskan:
"Sungguh orang itu telah kafir, karena Allah sendiri telah berfirman:

الرحمان على العرش استوى

"Allah Ar Rahman istiwa' (tinggi) di atas 'Arsy". (QS. Thaha: 5)"

Orang itu menyatakan:
"Aku meyakini bahwa Allah memang tinggi istiwa' di atas 'Arsy. Tapi aku tidak mengetahui dimanakah 'Arsy tersebut, di langit ataukah di bumi."

Imam Abu Hanifah kembali menegaskan:
"Jika orang tersebut mengingkari Allah di atas langit, maka dia kafir."
[ Al 'Uluw Lil 'Aliyyil Ghoffar ]

Hari ini, aqidah Salaf Ahlussunnah tentang istiwa' Allah di atas 'Arsy, tampaknya mulai pudar di kalangan para (pengaku) pengemban Manhaj Salaf itu sendiri. Padahal, aqidah ini sudah pakem dan menjadi ijma' ulama dari masa ke masa.

Eksistensi da'i-da'i kondang yang mengaburkan aqidah shahihah ini telah memberikan kontribusi besar atas rapuhnya i'tiqad umat. 

Seandainya para da'i itu hidup di zaman para ahli ilmu terdahulu, entah ucapan macam apa yang akan disematkan oleh para ulama di kening para juru dakwah tersebut.

Jaga diri dan keluarga kita.

ditulis oleh Ammi Ahmad

Kebaikan itu ada 2 macam:



1. Kebaikan basyariyyah, yakni kebaikan yang bersumber dari tabiat manusiawi. Kebaikan ini bersifat universal, diakui oleh seluruh manusia dari berbagai bangsa, agama, dan golongan. Tidak ada yang mengingkari kebaikan dari aspek ini.

Contoh kebaikan jenis ini:
Menolong orang yang lemah, menyantuni anak-anak yatim dan faqir miskin, berbagi dengan sesama, tidak membunuh, tidak menyakiti, menjaga kebersihan dan kerapian, membuang sampah pada tempatnya, bakti sosial, menyayangi orangtua, berbuat baik pada tetangga.

2. Kebaikan ilahiyyah, yaitu kebaikan yang diperoleh melalui petunjuk wahyu dari Rabb semesta alam.

Kebaikan ilahiyyah ini terbagi menjadi 2:
- Kebaikan ilahiyyah secara umum
- Kebaikan ilahiyyah secara khusus

* Kebaikan ilahiyyah yang bersifat umum bisa masuk di dalamnya kebaikan basyariyyah universal pada point 1 di atas. Artinya, seluruh aspek kebaikan universal, selama diakui dan dibenarkan oleh syari'at, maka pada hakikatnya itu adalah kebaikan ilahiyyah juga; yakni kebaikan ilahiyyah yang bersifat umum.

Maka, tak heran bila perspektif universal meyakini bahwa menolong orang miskin itu baik, tidak membunuh itu baik, menjaga kebersihan itu baik, maka Islam pun membenarkan itu semua sebagai kebaikan.

* Kebaikan ilahiyyah yang bersifat khusus; ini tidaklah mungkin diketahui kecuali dengan jalan petunjuk wahyu secara khusus. Kebaikan ini tidak bersifat universal karena tidak seluruh umat manusia mau mengakuinya, tidak setiap agama mengajarkannya, dan tidak setiap golongan meyakininya.

Kebaikan ilahiyyah khusus ini benar-benar murni sebagai petunjuk dari Allah 'Azza wa Jalla bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan agar selamat sampai di tempat tujuan, yaitu negeri akhirat.

Contoh jenis kebaikan ilahiyyah khusus:
Ajaran tauhid secara sempurna, petunjuk Nabawi dalam bermanhaj secara benar, ibadah sholat, berhijab bagi muslimah, perintah berzakat, menunaikan haji bagi yang mampu, berdzikir, membaca Al Qur'an, hingga termasuk hal-hal yang dianggap ringan semacam makan minum dengan tangan kanan, menutup mulut ketika menguap, membersihkan tempat tidur sebelum digunakan, mencuci tangan setelah bangun tidur malam, dan lain-lain dari berbagai ajaran yang hanya dijumpai di dalam Islam, tidak didapati pada ajaran apapun di luar agama ini.

Pemahaman seperti ini perlu kita miliki karena mengandung konsekuensi tertentu.

Di antara konsekuensi tersebut adalah, bahwa dalam banyak hal dan kondisi, kita tidak bisa menghakimi seseorang dengan benar atau salah, baik atau buruk, hanya berdasarkan aspek kebaikan basyariyyah atau kebaikan ilahiyyah umum saja; baik terhadap orang yang beda agama maupun seagama; melainkan harus diterapkan juga aspek kebaikan ilahiyyah khusus sebagai acuan penilaian.

Orang yang tidak memahami aspek-aspek kebaikan semacam ini akan mudah sekali terjebak dalam relativisme dan kerancuan sikap.

Dia akan mengatakan:
"Ah nggak masalah dia non muslim. Yang penting hatinya baik, suka menolong orang, punya yayasan yatim piatu, selalu berjuang untuk perdamaian, dan tidak pernah menyakiti siapapun. Lihatlah negara Jepang itu. Mayoritas penduduknya tidak punya agama. Tapi mereka adalah orang-orang yang luar biasa."

---> Tanpa memandang bagaimana aqidahnya, tauhidnya, imannya. Yang penting baik dengan kebaikan basyariyyah universal atau kebaikan ilahiyyah umum.

Yang lain lagi mengatakan:
"Ah nggak apa-apa meskipun dia seorang quburiy (penyembah kubur). Yang penting dia rajin sholat, rutin puasa sunnah, gemar bersedekah, selalu baik sama tetangga, dan ramah pada semua orang."

---> Tanpa mengacu pada urgensi manhaj, kemurnian aqidah, dan kesucian tauhid. 

Padahal, semestinya, menilai seseorang itu sepatutnya melibatkan 3 unsur kebaikan tadi: kebaikan basyariyyah universal, kebaikan ilahiyyah umum, dan kebaikan ilahiyyah khusus.

Barakallahu fiikum.

Ammi Ahmad

Wednesday, January 3, 2018

Jawaban untuk Menghilangkan Keraguan terhadap Manhaj Salaf:

Wednesday, January 3, 2018 0

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Salah seorang saudara kami waffaqahullah meminta kami untuk menanggapi sebuah tulisan demi menghilangkan keraguan dalam hatinya terhadap manhaj Salaf, yaitu sebuah tulisan dari saudara kami waffaqahullah berikut ini:

----------------
Kritik Untuk Saudara-Saudaraku Sesama Salafy

Kita sering mendengar sebuah hadits yang sangat terkenal bahwa umat Islam terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka hanya satu golongan yang masuk surga.

Salafy mempunyai keyakinan bahwa satu golongan yang masuk surga itu hanya Salafy saja sedangkan yang lainnya masuk neraka.
----------------

Tanggapan:

Pertama: Apabila yang dimaksud adalah Salafy secara hakiki, yaitu pengikut generasi Salaf, generasi Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabatnya maka itu adalah keyakinan yang benar, sebagaimana sudah jelas dalam hadits yang mulia ini.

Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda,

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فِى النَّارِ إِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِى

"Dan akan berpecah umatku menjadi 73 kelompok, semuanya di neraka kecuali satu, yaitu yang mengikuti aku dan para sahabatku." [HR. At-Tirmidzi dari Abdullah bin 'Amr bin 'Ash radhiyallahu'anhuma, Shohihul Jami: 9474]

Kedua: Apabila yang dimaksud adalah kelompok atau komunitas tertentu yang mengaku Salafy dan memastikan diri mereka satu-satunya yang masuk surga, tidak kelompok atau komunitas salafy yang lainnya, maka sudah jelas batil. Sebab Salafy bukanlah kelompok, salafy adalah manhaj dalam beragama. Walaupun keterangan dalam tulisan di atas tidak detail, namun kami menyangka inilah yang beliau maksudkan, waffaqahullah.

----------------
Beliau waffaqahullah berkata:

Menurut keyakinan Salafy golongan seperti; Asy'ari, Maturidi, NU, Muhammadiyah, Haba'ib, Al-Irsyad, Persis, Jama'ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin adalah termasuk 72 golongan yang masuk neraka.
----------------

Tanggapan:

Ulama menjelaskan bahwa 72 golongan yang masuk neraka adalah golongan-golongan ahlul bid'ah, yaitu golongan-golongan yang menyelisihi manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah dalam permasalahan prinsip agama.

Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah berkata,

أَنَّهُ قَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلَّا وَاحِدَةً» وَحَتَّمَ ذَلِكَ. وَقَدْ تَقَدَّمَ أَنَّهُ لَا يُعَدُّ مِنَ الْفِرَقِ إِلَّا الْمُخَالِفَ فِي أَمْرٍ كُلِّيٍّ وَقَاعِدَةٍ عَامَّةٍ

"Bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda, "Semuanya di neraka kecuali satu." Beliau memastikan hal tersebut. Dan telah berlalu bahwa tidaklah seseorang digolongkan kepada kelompok-kelompok itu kecuali orang yang menyelisihi dalam perkara yang menyeluruh dan kaidah umum (prinsip-prinsip dasar agama)." [Al-I'tishom, 2/764]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

و"الْبِدْعَةُ" الَّتِي يُعَدُّ بِهَا الرَّجُلُ مِنْ أَهْلِ الْأَهْوَاءِ مَا اشْتَهَرَ عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ بِالسُّنَّةِ مُخَالَفَتُهَا لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ؛ كَبِدْعَةِ الْخَوَارِجِ وَالرَّوَافِضِ وَالْقَدَرِيَّةِ وَالْمُرْجِئَةِ فَإِنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ وَيُوسُفَ بْنَ أَسْبَاطٍ وَغَيْرَهُمَا قَالُوا: أُصُولُ اثْنَتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً هِيَ أَرْبَعٌ: الْخَوَارِجُ وَالرَّوَافِضُ وَالْقَدَرِيَّةُ وَالْمُرْجِئَةُ

"Bid'ah yang menggolongkan seseorang kepada ahlul ahwa (ahlul bid'ah) adalah bid'ah yang telah masyhur di kalangan ulama Sunnah akan penyelisihannya terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah, seperti bid'ah Khawarij, Rafidhah (Syi'ah), Qodariyyah dan Murjiah, karena sungguh Abdullah bin Al-Mubarok, Yusuf bin Asbath dan selain keduanya berkata: Akar 72 golongan ada empat; Khawarij, Rafidhah (Syi'ah), Qodariyyah dan Murjiah." [Majmu' Al-Fatawa, 35/414]

Maka silakan menilai sendiri berdasarkan ilmu apakah golongan-golongan di atas memiliki bid'ah dalam perkara prinsip agama? Apabila kita tidak mampu menilainya maka serahkan kepada ulama. Berikut ini penilaian ulama yang kami ketahui terhadap golongan-golongan di atas.

1. Asy'ariyyah dan Maturidiyyah

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin rahimahullah berkata,

فالأشاعرة مثلا والماتريدية لا يعدون من أهل السنة والجماعة في هذا الباب، لأنهم مخالفون لما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه في إجراء صفات الله سبحانه وتعالى على حقيقتها، ولهذا يخطئ من يقول: إن أهل السنة والجماعة ثلاثة: سلفيون، وأشعريون، وماتريديون، فهذا خطأ، نقول: كيف يمكن الجميع أهل سنة وهم مختلفون؟! فماذا بعد الحق إلا الضلال؟! وكيف يكونون أهل سنة وكل واحد يرد على الآخر؟! هذا لا يمكن، إلا إذا أمكن الجمع بين الضدين، فنعم، وإلاّ، فلا شك أن أحدهم وحده هو صاحب السنة، فمن هو؟ ‍ الأشعرية، أم الماتريدية، أم السلفية؟ ‍‍ نقول: من وافق السنة، فهو صاحب السنة ومن خالف السنة، فليس صاحب سنة، فنحن نقول: السلف هم أهل السنة والجماعة، ولا يصدق الوصف على غيرهم أبداً والكلمات تعتبر معانيها لننظر كيف نسمى من خالف السنة أهل سنة؟ ‍ لا يمكن وكيف يمكن أن نقول عن ثلاث طوائف مختلفة: إنهم مجتمعون؟ فأين الاجتماع؟ ‍‍ فأهل السنة والجماعة هم السلف معتقداً، حتى المتأخر إلى يوم القيامة إذا كان على طريقة النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه، فإنه سلفي.

"Asy'ariyyah dan Maturidiyah sebagai permisalan (yang menyelisihi Ahlus Sunnah), mereka tidaklah dianggap sebagai Ahlus Sunnah dalam bab ini (Asma' wash Shifat), karena mereka menyelisihi Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan sahabat dalam menetapkan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta'ala sesuai hakikatnya.

Oleh karena itu telah salah orang yang mengatakan: Sesungguhnya Ahlus Sunnah wal Jama'ah ada tiga golongan: Salafy, Asy'ari dan Maturidi. Ini salah.

Kami katakan: Bagaimana mungkin semua adalah Ahlus Sunnah padahal mereka berbeda?! Bukankah tidak ada setelah kebenaran kecuali kesesatan?! Dan bagaimana mungkin mereka semua Ahlus Sunnah padalah satu dengan yang lainnya saling membantah (yang dianggap sesat)?!

Ini tidak mungkin, kecuali apabila dua hal yang bertentangan dapat disatukan (padahal itu tidak mungkin). Na'am,jika tidak, maka tidak diragukan lagi bahwa hanyalah salah satu dari mereka itulah yang Ahlus Sunnah, siapa dia? Apakah Asy'ariyyah, Maturidiyah atau Salafiyah?

Kita katakan: Siapa yang sesuai sunnah maka dialah Ahlus Sunnah, siapa yang menyelisihi sunnah maka dia bukan Ahlus Sunnah. Maka kita katakan: Salaf, merekalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah, dan tidak akan benar pensifatan Ahlus Sunnah terhadap selain mereka selama-lamanya, karena kata-kata itu yang menjadi patokan adalah makna-maknanya, agar kita dapat melihat bagaimana bisa kita menamakan yang menyelisihi sunnah sebagai Ahlus Sunnah?

Itu tidak mungkin, maka bagaimana mungkin kita mengatakan terhadap tiga kelompok yang berbeda bahwa mereka semua sama (Ahlus Sunnah)? Di mana persamaannya?

Maka Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang sebenarnya adalah yang mengikuti Salaf dalam aqidah, walau orang terakhirnya sampai hari kiamat, apabila dia mengikuti jalan Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam dan para sahabat beliau, maka dia adalah SALAFY." [Syarhul 'Aqidah Al-Wasithiyyah, 1/54]

Andai ada seorang ulama Ahlus Sunnah yang menganggap Asy'ariyyah dan Maturidiyah sebagai Ahlus Sunnah maka itu bukanlah alasan untuk mencerca saudara kita yang mengikuti ulama yang memasukkan Asy'ariyyah dan Maturidiyah ke dalam 72 golongan yang sesat, bukan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.

Dan sependek yang kami ketahui adalah ulama Ahlus Sunnah yang memasukkan Asy'ariyyah dan Maturidiyyah ke dalam golongan yang selamat (Ahlus Sunnah wal Jama'ah) tidak SECARA MUTLAQ. Melainkan dengan TAQYID. Seperti ketika menyebut selain Syi'ah dan Mu'tazilah (semisal JIL di negeri ini), atau hanya dalam bab-bab tertentu saja. Jadi bukan Ahlus Sunnah secara hakiki.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

فَلَفْظُ " أَهْلِ السُّنَّةِ " يُرَادُ بِهِ مَنْ أَثْبَتَ خِلَافَةَ الْخُلَفَاءِ الثَّلَاثَةِ، فَيَدْخُلُ فِي ذَلِكَ جَمِيعُ الطَّوَائِفِ إِلَّا الرَّافِضَةَ، وَقَدْ يُرَادُ بِهِ أَهْلُ الْحَدِيثِ وَالسُّنَّةِ الْمَحْضَةِ، فَلَا يَدْخُلُ فِيهِ إِلَّا مَنْ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ لِلَّهِ تَعَالَى وَيَقُولُ: إِنَّ الْقُرْآنَ غَيْرُ مَخْلُوقٍ، وَإِنَّ اللَّهَ يُرَى فِي الْآخِرَةِ، وَيُثْبِتُ الْقَدْرَ، وَغَيْرَ ذَلِكَ مِنَ الْأُصُولِ الْمَعْرُوفَةِ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ وَالسُّنَّةِ.

"Lafaz Ahlus Sunnah bisa jadi yang dimaksudkan dengannya adalah orang yang menetapkan kekhilafahan khalifah yang tiga (Abu Bakr, Umar dan Utsman radhiyallahu'anhum), maka masuk ke dalamnya seluruh kelompok kecuali Syi'ah Rafidhah. Dan bisa jadi yang dimaksud dengan lafaz Ahlus Sunnah adalah Ahlul Hadits was Sunnah yang murni (yang sebenarnya), maka tidak masuk kepadanya kecuali orang yang menetapkan (mengimani) sifat-sifat Allah ta'ala dan berpendapat: Sesungguhnya Al-Qur'an bukan makhluk, Allah dapat dilihat di akhirat, mengimani takdir dan selain itu yang termasuk prinsip-prinsip Ahlul Hadits was Sunnah yang sudah ma'ruf." [Minhajus Sunnah, 2/221]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

وإن كان في كلامهم من الأدلة الصحيحة وموافقة السنة مالا يوجد في كلام عامة الطوائف فإنهم أقرب طوائف أهل الكلام إلى السنة والجماعة والحديث وهم يعدون من أهل السنة والجماعة عند النظر إلى مثل المعتزلة والرافضة ونحوهم بل هم أهل السنة والجماعة في البلاد التي يكون أهل البدع فيها المعتزلة والرافضة ونحوهم

"Meski dalam ucapan mereka (Asy'ariyyah) terdapat dalil-dalil shahih dan sesuai sunnah yang tidak terdapat dalam ucapan semua kelompok lainnya, sehingga mereka adalah kelompok AHLUL KALAM yang paling dekat kepada As-Sunnah wal Jama'ah wal Hadits. Dan mereka digolongkan kepada Ahlus Sunnah wal Jama'ah apabila dibandingkan dengan (kelompok yang lebih sesat) seperti Mu'tazilah, Syi'ah Rafidhah dan yang semisalnya, bahkan mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama'ah di negeri-negeri yang padanya (didominasi) ahli bid'ah dari kalangan Mu'tazilah, Syi'ah dan yang semisalnya." [Bayaanu Talbisil Jahmiyah, 3/538]

2. Ikhwanul Muslimin dan Jama'at Tabligh

Tentang Ikhwanul Muslimin dan Jama'at Tabligh silakan lihat fatwa-fatwa ulama Sunnah di sini: http://sofyanruray.info/fatwa-fatwa-ulama-ahlus-sunnah-tentang-kelompok-kelompok-islam-kontemporer/

3. NU, Muhammadiyah, Haba'ib, Al-Irsyad, Persis

Adapun NU, Muhammadiyah, Haba'ib, Al-Irsyad, Persis maka perlu dipelajari lebih detail dan ditanyakan kepada para ulama. Lebih selamat kita bersikap dengan mengikuti bimbingan ulama.

Hanya saja perlu dipahami bahwa memasukkan kelompok-kelompok yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jama'ah ke dalam 72 golongan sesat yang masuk neraka sebagaimana dalam hadits iftiroq, bukanlah memastikan person-person golongan tersebut sebagai penghuni neraka, karena telah dimaklumi perbedaan antara hukum muthlaq dan ta'yin.

----------------
Beliau waffaqahullah berkata:

Apalah artinya kita berpura-pura baik dan dakwah lemah lembut serta akrab dengan tokoh-tokoh xx dan yang lainnya sementara kita berkeyakinan bahwa kelompok tersebut termasuk 72 golongan yang masuk neraka, bukankah ini adalah "taqiyah" mirip ajaran syi'ah, yaitu berpura-pura karena masih minoritas dan takut..?!
----------------

Tanggapan:

Berlemah lembut terhadap orang yang sesat demi untuk mendakwahinya atau agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan yang keji terhadapnya atau demi kemaslahatan dunia dan agama bukanlah taqiyyah, tapi memang tuntutan syari'at yang diistilahkan para ulama dengan mudaaraah. Apabila kita bersikap keras dan kasar kepadanya tentu dia akan lari dari dakwah yang mulia ini.

Allah ta'ala berfirman kepada Nabi-Nya Muhammad shallallahu'alaihi wa sallam,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." [Ali Imron: 159]

Dari Urwah rahimahullah, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu'anha,

أَنَّ رَجُلًا اسْتَأْذَنَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَلَمَّا رَآهُ قَالَ: «بِئْسَ أَخُو العَشِيرَةِ، وَبِئْسَ ابْنُ العَشِيرَةِ» فَلَمَّا جَلَسَ تَطَلَّقَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطَ إِلَيْهِ، فَلَمَّا انْطَلَقَ الرَّجُلُ قَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، حِينَ رَأَيْتَ الرَّجُلَ قُلْتَ لَهُ كَذَا وَكَذَا، ثُمَّ تَطَلَّقْتَ فِي وَجْهِهِ وَانْبَسَطْتَ إِلَيْهِ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا عَائِشَةُ، مَتَى عَهِدْتِنِي فَحَّاشًا، إِنَّ شَرَّ النَّاسِ عِنْدَ اللَّهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ تَرَكَهُ النَّاسُ اتِّقَاءَ شَرِّهِ»

"Bahwa seseorang meminta izin kepada Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam, maka tatkala beliau melihatnya, beliau bersabda: "Dia adalah sejelek-jeleknya saudara dalam keluarga, dan dia adalah sejelek-jeleknya anak dalam keluarga". Tatkala orang itu duduk, Nabi shallallahu'alaihi wa sallam menyambutnya dengan wajah berseri dan ramah kepadanya, maka ketika orang itu pergi Aisyah berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah ketika engkau melihat orang itu engkau berkata tentangnya ini dan itu, tetapi mengapa engkau menyambutnya dengan wajah berseri dan ramah kepadanya? Maka Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Wahai Aisyah kapankah engkau melihatku melakukan perbuatan yang keji, sesungguhnya manusia yang paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh manusia karena menghindari kejelekannya." [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata,

وَإِنَّمَا أَلَانَ لَهُ الْقَوْلَ تَأَلُّفًا لَهُ وَلِأَمْثَالِهِ عَلَى الْإِسْلَامِ وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مُدَارَاةُ مَنْ يُتَّقَى فُحْشُهُ وَجَوَازُ غِيبَةِ الْفَاسِقِ الْمُعْلِنِ فِسْقَهُ وَمَنْ يَحْتَاجُ النَّاسُ إِلَى التَّحْذِيرِ مِنْهُ

"Hanyalah Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam melembutkan ucapan kepadanya demi membuatnya dan yang semisal dengannya mau masuk Islam. Dan dalam hadits ini ada anjuran untuk melakukan mudaaraah terhadap orang yang dikhawatirkan kekejiannya, dan bolehnya mengghibahi orang fasik yang terang-terangan melakukan kefasikannya dan orang yang manusia perlu ditahdzir darinya." [Syarhu Muslim, 16/144]

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وَقَالَ الْقُرْطُبِيُّ فِي الْحَدِيثِ جَوَازُ غِيبَةِ الْمُعْلِنِ بِالْفِسْقِ أَوِ الْفُحْشِ وَنَحْوِ ذَلِكَ مِنَ الْجَوْرِ فِي الْحُكْمِ وَالدُّعَاءِ إِلَى الْبِدْعَةِ مَعَ جَوَازِ مُدَارَاتِهِمُ اتِّقَاءَ شَرِّهِمْ مَا لَمْ يُؤَدِّ ذَلِكَ إِلَى الْمُدَاهَنَةِ فِي دِينِ اللَّهِ تَعَالَى

"Dan Al-Qurthubi berkata: Dalam hadits ini terdapat penjelasan bolehnya mengghibahi orang yang terang-terangan berbuat kefasikan, kekejian dan yang semisalnya seperti kezaliman dalam hukum dan mengajak kepada perbuatan bid'ah, juga penjelasan bolehnya melakukan mudaaraah kepada mereka demi menghindari kejelekan mereka, selama itu tidak mengantarkan kepada sikap mudaahanah dalam agama Allah ta'ala." [Fathul Baari, 10/454]

Apa yang Dimaksud dengan Mudaaraah dan Mudaahanah Serta Apa Perbedaannya?

Al-Hafiz Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

ثُمَّ قَالَ تَبَعًا لعياض وَالْفرق بَين المدارة وَالْمُدَاهَنَةِ أَنَّ الْمُدَارَاةَ بَذْلُ الدُّنْيَا لِصَلَاحِ الدُّنْيَا أَوِ الدِّينِ أَوْ هُمَا مَعًا وَهِيَ مُبَاحَةٌ وَرُبَّمَا اسْتُحِبَّتْ وَالْمُدَاهَنَةُ تَرْكُ الدِّينِ لِصَلَاحِ الدُّنْيَا

"Kemudian beliau (Al-Qurthubi rahimahullah) berkata dengan mengikuti ucapan 'Iyadh: Perbedaan antara mudaaraah dan mudaahanah adalah, bahwa mudaaraah itu mengorbankan dunia untuk kebaikan dunia atau agama atau kedua-keduanya sekaligus dan hukumnya boleh, bahkan bisa jadi dianjurkan. Adapun mudaahanah adalah meninggalkan agama untuk kemaslahatan dunia." [Fathul Baari, 10/454]

Maka boleh kita berlaku baik bahkan memberikan hadiah kepada orang yang sesat demi menghindari kejelekannya terhadap kita dalam kemaslahatan dunia atau agama. Inilah yang dimaksud mudaaraah dan bukan taqiyyah.

Adapun taqiyyah itu lebih mirip mudaahanah, seperti ikut-ikutan melakukan amalan bid'ah padahal tahu bahwa itu salah, demi kemaslahatan dunia, demi agar tidak diganggu fisiknya atau hartanya. Orang-orang Syi'ah rela mengikuti amalan-amalan Ahlus Sunnah walau menurutnya salah, agar kesesatannya tidak diketahui sehingga diri dan hartanya aman.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Parabola islami

Parabola islami,
parabola muslim,
parabola sunnah,
parabola sunnah jogja,
parabola muslim jogja,
parabola islami Jogja,
parabola islami murah Jogja,
parabola muslim murah jogja,
parabola sunnah murah jogja,

Damar Muhisa

Monday, January 1, 2018

Tabarruk

Monday, January 1, 2018 0
Pemahaman penting mengenai Tabarruk :

Tabarruk dengan benda yang terdapat ayat-ayat Al Qur'an yang ditulis, digantung, disimpan, dijadikan jimat, rajah, ataupun dicampur dengan tulisan lain yang tidak jelas maksudnya. 

Baik itu dengan tujuan tolak bala, untuk mendapatkan kesaktian, guna perlindungan, mendatangkan rezeki, dan lain lain yang semisal. 

Maka itu adalah Tabarruk yang haram, merendahkan kesucian ayat-ayat Al Qur'an walaupun orang melakukannya tidak tahu, dan wajib untuk diingkari. 

-------
Tabarruk dengan Al Qur'an itu yang disyariatkan adalah dengan cara membacanya, mempelajari nya, mengamalkan nya, berdoa dan berdzikir dengan nya, dan melakukan ruqyah dengan Al Qur'an. 

Adapun Tabarruk dengan menggantungkan jimat (Tamimah) yang berasal dari Al Qur'an, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah itu.

Dan yang rojih, adalah hal itu dilarang atas nama saddudz dzaroi (tindakan antisipasi untuk menghindari madhorot), dan juga melihat realita yang ada di masyarakat Islam sekarang ini. 

Silakan lihat penjelasan dari Disertasi Syaikh Nashir Al Juda'i, yang saya foto pada halaman 318-324 tersebut.

Yakni dengan catatan bahwa yang digantung kan adalah benar-benar murni hanya ayat Al Qur'an saja. Tidak disertai tulisan lain, ataupun gambar, ataupun simbol, angka, huruf, dan lain lain semisal. 

Adapun ta'liq Syaikh ibn Baz terhadap Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid tulisan Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh. Maka Syaikh ibn Baz berkata bahwa pendapat Salaf dari kalangan Sahabat yang membolehkan untuk memakai jimat (Tamimah) yang murni hanya bertuliskan ayat Al Qur'an itu. 

Yang mana pendapat ini berasal sahabat Abdullah bin Amr rodhiyalloohu anhu, yang kemudian diikuti oleh ulama setelah nya dari kalangan selain Sahabat. 

Maka Syaikh ibn Baz berkata bahwa riwayat yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Amr itu lemah, dan juga sebenarnya tidak sesuai untuk konteks masalah jimat (Tamimah) yang murni bertuliskan ayat Al Qur'an. 

Syaikh ibn Baz berkata, bahwa Abdullah bin Amr menggantungkan papan bertuliskan ayat-ayat Al Qur'an di papan kecil di leher anak anak itu dengan tujuan agar anak anak kecil itu menghafalnya. 

Bukan dengan tujuan untuk jimat (Tamimah) guna Tabarruk kepada Al Qur'an. 

Inilah argumentasi dan penjelasan yang benar. Maka dari itu tidak boleh ber Tabarruk dengan menggantungkan ataupun membawa ataupun yang semisal dari ayat-ayat Al Qur'an. Larangan ini juga dikuatkan oleh perkataan sahabat utama lainnya seperti Ibnu Mas'ud dan Ibnu Abbas. 

Lihat foto akan ta'liq (catatan) Syaikh ibn Baz pada hal 244 di footnote Fathul Majid. Lihat juga kelengkapan Fathul Majid dan ta'liq Syaikh ibn Baz pada hal 244 - 247, yang saya foto semuanya agar dapat memberikan faedah yang lebih sempurna. 

***
Versi buku asli berbahasa Arab dalam bentuk PDF, dari disertasi doktoral Syaikh Nashir Al Juda'i dapat diunduh secara gratis di :


Sedangkan Fathul Majid syarh kitabut Tauhid Syaikh Abdurrahman Alu Syaikh dengan tahqiq dan ta'liq (catatan) dari Syaikh ibn Baz, yang versi asli berbahasa Arab. Dapat diunduh secara gratis di :


****
Adapun jika yang digantungkan itu bukan ayat Al Qur'an; atau ayat Al Qur'an tapi  dicampur dengan tulisan selainnya. Baik itu berupa simbol simbol, gambar, angka, coretan, atau yang lain-lain. Yang mana ini sebenarnya adalah jampi jampi syaitan. 

Ataupun jika cara pembuatan tulisan Al Qur'an yang dijadikan jimat itu, harus ada syarat syarat tertentu dan melalui ritual tertentu. Dan demikian juga dengan cara pemakaian dan perawatan jimat tersebut. 

Ataupun yang ditulis dengan menggunakan bahan bahan najis dan menjijikkan, atau harus dengan metode tertentu. 

Maka ini mutlaq harom dan terlarang. Inilah tipuan syaitan atas nama Tabarruk kepada ayat-ayat Al Qur'an. 

Dan inilah yang umumnya ada di sebagian masyarakat Muslim. Yang mana mereka tertipu menggantungkan jimat karena ada tulisan Al Qur'an nya disitu, ataupun bahkan hanya sekedar tulisan Arab yang dia tidak faham karena dikira ayat-ayat Al Qur'an, karena saking awamnya dia. 

***
Jimat-jimat, rajah, dan lain lain yang semisal ini wajib untuk diingkari dan bahkan dibakar guna dimusnahkan agar ayat-ayat Al Qur'an tidak dihinakan oleh permainan Syaitan dan para dukun yang berkedok agama ini. 

Jika dalam proses pemusnahan ataupun penghilangan jimat ini mengalami gangguan dari jin jin yang bersarang akibat jimat haram itu, maka lawanlah dengan Tabarruk kepada Al Qur'an yang sesuai dengan syariat. Baik itu dengan dzikir dan do'a yang berasal dari Al Qur'an atau yang diajarkan Rasulullah, ataupun dengan ruqyah syar'iyyah.



Ust Kautsar Amru
 
Catatan Damar. Design by Pocket - Fixed by Blogger templates