Thursday, June 13, 2019

Apa hukumnya menambah lafadz "sayyidinā" dalam tasyahhud, shalawat dan adzan?

Thursday, June 13, 2019 0

1. Tasyahhud: tidak ditemukan nash Ulama' madzhab syafi'iyah yg sudah tercetak atau yg masih menjadi manuskrip tentang boleh atau tidaknya penambahan lafadz "sayyidinā" ketika disebut Nabi Muhammad, namun yg lebih dekat dengan kaedah madzhab adalah "tidak dimustahabkan" karena tasyahhud dibangun diatas tauqīf dan ittibā', ini dikuatkan dengan ucapan Ibnu 'Abbās -Radhiyallāhu 'anhumā-: "dahulu Rasulullah mengajarkan kepada kami at tasyahhud sebagaimana mengajarkan kepada kami Al Qur'an", akan tetapi jika ada yg menambahkan lafadz tersebut tidak membatalkan shalat, begitulah yg sesuai atau mendekati kaedah-kaedah dalam madzhab syafi'iyah.

Catatan:
- Perkara Tauqīf: permasalahan yg bergantung dengan nash secara khusus dari syari'at.
- Ittibā': Mengikuti ajaran Nabi 'alaihis shalātu was salām.

2. Shalawat: ada tiga pendapat dikalangan ahli tahqīq madzhab syafi'iyah:
- Pandangan pertama: tidak dimustahabkan penambahan lafadz tersebut dalam shalat, namun apabila ditambahkan maka tidak membatalkan shalat. Ini pandangan al Khathīb as Syarbīniy dan yg zhahir dari ucapan al Isnawiy -rahimahumallāhu ta'ālā-.
- Pandangan kedua: dimustahabkan penambahan lafadz tersebut dalam shalat. Ini adalah pendapat ar Ramliy dan Ibnu Hajar al Haitamiy, dinisbatkan pula kepada Ibnu Zhahīrah -rahimahumullāh-.
- Pandangan ke-tiga: penambahan lafadz tersebut dalam shalat membatalkannya. Ini adalah pendapatnya Abul Muzhaffar at Thūsiy -rahimahullāh-, hanya pendapat ini lemah dan syādz.

Catatan: pendapat pertama cukup kuat, dikarenakan ihtiyāth (kehati-hatian) dalam menambahkan sesuatu dalam shalat dan khurūj (menghindari) pendapat yg ke-tiga.

3. Adzan: tidak ada nukilan yg dari kalangan ahli tahqīq dalam madzhab, hanya saja ada nukilan dari as Syabrāmallisiy, itupun secara "takhrīj" atas pendapat ar Ramliy dalam masalah penamaan lafadz pada shalawat.
Hanya saja takhrīj yg beliau lakukan, perlu ditinjau kembali, dikarenakan pembahasan adzan lebih sempit/ketat dibandingkan pembahasan shalawat. Sedangkan dalam pembahasan adzan Ulama' madzhab banyak memakruhkan penambahan-penambahan dalam adzan dengan berlandasan "lafadz tersebut tidak disebutkan oleh Nabi", seperti penambahan at tatswīb dalam adzan isya', mereka pun membantah orang-orang yg mengqiyaskan penambahan at tatswīb dalam adzan isya' dengan adzan subuh. Begitu pula mereka memakruhkan pembahasan ucapan "hayya 'alā khoiril 'amal" walaupun penambahan ini disebutkan dalam hadits yg mauqūf.
Tidak dianjurkannya penambahan lafadz tersebut dalam adzan juga dikuatkan secara dalil, sebagaimana diriwayatkan dari Abī Mahdzūrah: "bahwasanya Rasulullah mengajarkan kepadanya adzan dengan 19 jumlah". Penyebutan jumlah tersebut menunjukkan kehati-hatian para sahabat dalam menambah atau mengurangi lafadz adzan. 
Walau demikian, penambahan lafadz tersebut tidak membatalkan adzan, dikarenakan Ulama' madzhab memperbolehkan penambahan dzikir atau kata dalam adzan, tentu hal tersebut selama tidak membuat adzan menjadi samar dikalangan orang-orang yg mendengarkannya.

Catatan:
- Takhrīj: mengqiyaskan/menurunkan suatu hukum (yg tidak didapatkan nashnya) dari suatu hukum (yg telah didapatkan nashnya oleh ahli tahqīq dalam madzhab).
- At Taswīb: Ucapan "as shalātu khoirum minan naum".

Demikian penjelasan tentang hukum penambahan lafadz "sayyidina" dalam tasyahhud, shalawat dan adzan, sedangkan penambahan diluar permasalahan yg bentuknya tauqīf maka penambahan tersebut baik dan mustahab.

Ringkasan dari jawaban Syaikh Muhammad Sālim Buhairiy -hafizhahullāh-, link jawaban sempurna dari beliau pada kolom komentar pertama.

src: fb Muhammad Kholil
 
Catatan Damar. Design by Pocket - Fixed by Blogger templates