Friday, December 13, 2019

Daulah Su'ud memberontak khilafah Utsmaniyah?

Friday, December 13, 2019 0

Hakikat Perseteruan Daulah Su'ud dan Khilafah Utsmaniyah

Menurut Zakariya Sulaiman Bayumi, sejarawan Mesir dari Univ. Manshurah, Daulah Su'ud TIDAK MENUNTUT kekhilafahan dan tidak juga memberontak kepada Khilafah Utsmaniyah. 
Hakekat perselisihan itu sesungguhnya ada 2:
1. Adanya tuntutan Daulah Su'ud agar jamaah haji menjalankan haji dengan tidak melakukan pelanggaran2 syariat.
2. Adanya rasa gengsi dari pemerintah Utsmani karena lemahnya pengaruh mereka di Tanah Suci, dan justru lemah di hadapan Daulah Su'ud.

Ini juga ditegaskan sejarawan Ali as-Shalabi bhw hubungan keduanya bukan karena pemberontakan. Pemerintah Utsmani di Istanbul terpancing dengan informasi/surat2 dari pihak yang tidak senang dengan Daulah Su'ud. Rekayasa utk menimbulkan kebencian pemerintah Utsmani ini dilakukan oleh Inggris dibantu oleh bekas penguasa Jeddah sebelumnya. Bahkan di halaman 156 buku ini, Zakariya menegaskan bahwa pihak yang paling terganggu kepentingannya dengan Daulah Su'ud ini adalah Inggris.

Problem terbesar Turki Utsmani saat itu bukan Daulah Su'ud tapi dari Muhammad Ali Pasha yang menjadi gubernur Mesir. Muhammad Ali inilah yang disuruh menghabisi Daulah Su'ud oleh pemerintah Utsmani. Belakangan, Muhammad Ali memberontak kepada pemerintah Utsmani dalam arti sesungguhnya. Puluhan ribu tentaranya menyerbu wilayah2 Turki Utsmani hingga jarak mereka dengan Istanbul hanya 200 km saja. Pembangkangan dan pemberontakan inilah, jika dilihat secara keseluruhan, menjadi sebab pokok lemahnya Turki Utsmani hingga runtuhnya. 

Lalu mengapa pemberontakan Muhammad Ali yang sangat dahsyat itu kurang dibahas khususnya sejarawan barat? Jawabannya ada pada buku Zakariya di atas: karena Muhammad Ali seorang freemason dan menjalankan agenda salibis!

Begitu pula pembenci "Wahabi" jarang mengulas pemberontakan Muhammad Ali. Padahal, kekejaman Muhammad Ali jauh melampaui "kekejaman" Daulah Su'ud (pake double-quote). 

Catatan:
- Simpulan yang mirip dengan Zakariya di atas, juga dapat dibaca pada buku Eugene Rogan berjudul "The Arabs, A History", serta buku-buku sejarah lainnya.

Link download:
- buku Qiraah Jadidah fi Tariikh Utsmaniyyin

Gbr:
- Sampul
- Cuplikan halaman 185.
- Foto penulis

Monday, December 9, 2019

Mengajarkan Peperangan dan Jihad Bukan Berarti Radikal

Monday, December 9, 2019 0


.
Ali bin Husain bin 'Ali bin Abi Thalib – Zainul 'Abidin- berkata,
.
كنا نعلم مغازي النبي صلى الله عليه و سلم وسراياه كما نعلم السورة من القرآن
.
 "Dulu kami diajarkan tentang (sejarah) peperangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana al-Qur'an diajarkan kepada kami"[["al-Jaami' li akhlaaqir raawi 2/195]
.
Kita tahu bagaimana dahulu para Sahabat belajar dan mengajarkan al-Quran, yaitu belajar setiap 10 ayat dan tidak akan lanjut pelajaran apabila belum paham, nah demikian juga peperangan diajarkan
.
Dahulu kita juga belajar perang-perang kemerdekaan seperti "perang ambarawa, perang surabaya dll", tidak muncul perasaan ingin menyerang negara lain atau perasaan ingin membalas dendam pada negara yang dahulu pernah menjajah indonesia (ingat bro, bukan Arab yang menjajah indonesia, tapi oknum tertentu benci banget dengan Arab, alias alasan ngeles untuk benci Islam)
.
Mengajarkan peperangan & jihad dalam Islam juga bukan untuk jadi radikal tetapu mengambil ibrah kepahlawanan dan perjuangan dalam Islam
.
Penyusun: Raehanul Bahraen

PENJAGAAN ALLAH TERHADAP RASULULLAH SEBELUM MASA KENABIAN



Oleh: Wira Mandiri Bachrun

Sebelum diutus menjadi rasul, Allah subhanahu wata'ala telah memberikan penjagaan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari keburukan-keburukan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat jahiliyah. Kehidupan beliau pra-kenabian adalah hidup yang penuh kemuliaan dan keutamaan. 

Meskipun masa muda beliau dihabiskan di tengah-tengah masyarakat jahiliyah akan tetapi Allah telah memuliakan beliau dengan selalu terjaga dari keburukan tersebut. Di tengah-tengah masyarakatnya, beliau adalah orang yang paling baik akhlaqnya, orang yang menjaga kehormatannya, paling cerdas, paling lemah-lembut, dan paling jauh dari karakter-karakter yang buruk. Bahkan beliau dikenal dengan kejujuran dan amanahnya sehingga dijuluki sebagai al amin, orang yang amanah. Keburukan dan kerendahan di masa jahiliyah sama sekali tidak mempengaruhi diri beliau. [1] 

Dalam pertumbuhan dan perkembangannya, Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam telah menghimpun berbagai kebaikan yang menjadi standar masyarakat di masa itu. Beliau adalah tipe ideal dari sisi kejernihan berpikir dan ketajaman pandangan. Beliau memiliki kecerdasan yang lebih, ide-ide orisinil yang demikian jitu.[2] Hal ini bisa kita lihat dari ide beliau ketika memindahkan Hajar Aswad. Ide yang bisa menghindarkan para kabilah di kota Makkah dari pertumpahan darah. [3] 

Dengan akalnya yang demikian cerdas dan fithrahnya yang suci beliau menganalisa lembaran kehidupan manusia, memperhatikan urusan dan kondisi-kondisi mereka. Oleh karena inilah beliau tidak ikut-ikutan kepada segala bentuk khurafat dan berusaha menjauhi diri beliau dari hal itu. Beliau berinteraksi dengan manusia dengan bashirah (penuh pertimbangan) baik terhadap urusan beliau pribadi maupun urusan masyarakat. Apabila hal tersebut baik, maka beliau akan ikut berpartisipasi di dalamnya. Contohnya, dahulu kaum musyrikin berpuasa pada hari Asyuro, maka beliau pun ikut berpuasa sebagaimana yang diriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari. Apabila hal tersebut tidak baik, maka beliau akan kembali mengasingkan diri. [4]

Beliau tidak pernah minum khamr, tidak pernah makan daging yang dipersembahkan kepada berhala, tidak pernah menghadiri perayaan untuk berhala ataupun pesta-pestanya bahkan dari sejak pertumbuhannya sudah menghindari dari sesembahan yang batil. Lebih dari itu, beliau malah sangat membencinya dan bahkan terkadang tidak dapat menahan emosi bila mendengar sumpah dengan nama Al Laata dan Al 'Uzza, dua berhala bangsa Arab.[5]

Tidak diragukan lagi bahwa berkat ketentuan Allah-lah beliau dapat terjaga dari hal tersebut. Ketika dorongan jiwa telah memuncak untuk mereguk kenikmatan duniawi dan rela mengikuti sebagian tradisi yang tak terpuji, ketika itulah pertolongan Allah menghalanginya dari hal-hal tersebut.

Di dalam sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Ibnul  Atsir bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

ما هممت بشيء مما كان أهل الجاهلية يعملون غير مرتين، كل ذلك يحول الله بيني وبينه، ثم ما هممت به حتى أكرمني برسالته

"Tidak pernah aku berkeinginan untuk melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Ahli Jahiliyyah kecuali hanya dua kali saja. Namun itu semua dihalangi oleh Allah. Kemudian aku pun tidak pernah lagi memiliki angan-angan untuk kembali melakukannya hingga Allah muliakan aku dengan risalah-Nya." 

Kemudian beliau menceritakan dua keadaan yang pernah terlintas di benak beliau untuk melakukannya,

قلت ليلة للغلام الذي يرعى معي الغنم بأعلى مكة: لو أبصرت لي غنمي حتى أدخل مكة وأسمر بها كما يسمر الشباب! فقال: أفعل، فخرجت حتى إذا كنت عند أول دار بمكة سمعت عزفا، فقلت: ما هذا؟ فقالوا: عرس فلان بفلانة، فجلست أسمع. فضرب الله على أذني فنمت، فما أيقظني إلا حر الشمس. فعدت إلى صاحبي فسألني، فأخبرته

"Suatu malam aku pernah berkata kepada seorang anak yang menggembala kambing bersamaku di dataran tinggi Makkah, 'Andai saja engkau mau mengawasi kambingku sementara aku akan memasuki kota Makkah dan bergadang ria seperti yang dilakukan oleh para pemuda...' 

Maka anak itu menjawab, "Baiklah.. (aku akan awasi kambingmu)."

Kemudian aku pun kembali ke Makkah, sampai ke rumah pertama yang aku temui aku mendengar suara tabuhan rebana. 

Aku pun lalu bertanya, "Ada acara apa ini?"

Mereka menjawab, "Pesta pernikahan si fulan dengan si fulanah!" 

Kemudian aku duduk-duduk untuk ikut mendengarkan tetabuhan musik itu. Namun Allah telah menutupi telingaku dengan membuatku tertidur. Aku tertidur sampai terasa teriknya panas matahari. Maka aku kembali menemui teman si penggembala. Dia bertanya kepadaku tentang apa yang aku alami dan akupun menceritakan apa yang terjadi pada diriku semalam."

Adapun kisah kedua...

ثم قلت ليلة أخرى مثل ذلك، ودخلت بمكة فأصابني مثل أول ليلة ... ثم ما هممت بسوء

"Kemudian setelah itu, aku pun ingin melakukan hal yang sama pada malam. Aku pun memasuki kota Makkah dan kembali terulang apa yang pernah aku alami di malam sebelumnya. Akhirnya aku tidak pernah lagi punya keinginan yang buruk."[6]

PENJAGAAN TERHADAP AURAT RASULULLAH SHALLALLAHU 'ALAIHI WASALLAM

Penjagaan terhadap diri beliau tidak hanya dari sisi moral. Tapi bahkan dari sisi kehormatan diri beliau juga dijaga oleh Allah. Sebagaimana kisah pembangunan Ka'bah yang telah berlalu. Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, beliau bertutur,

لَمَّا بُنِيَتْ الْكَعْبَةُ ذَهَبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَبَّاسٌ يَنْقُلَانِ الْحِجَارَةَ فَقَالَ عَبَّاسٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْعَلْ إِزَارَكَ عَلَى رَقَبَتِكَ يَقِيكَ مِنْ الْحِجَارَةِ فَخَرَّ إِلَى الْأَرْضِ وَطَمَحَتْ عَيْنَاهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ أَفَاقَ فَقَالَ إِزَارِي إِزَارِي فَشَدَّ عَلَيْهِ إِزَارَهُ

Ketika Ka'bah dibangun ulang, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan Abbas ikut serta memindahkan batu. Maka Abbas mengatakan kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Letakkanlah sarungmu di atas pundakmu, agar batu tidak menggores tubuhmu." Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin melakukannya, tiba-tiba Beliau tersungkur jatuh, mata Beliau pun kemudian memandang ke langit. Saat tersadar, beliau berkata, "Ini karena sarungku, ini karena sarungku!" Maka beliau pun mengencangkan sarungnya. (HR. Al Bukhari dan Muslim) 

Dan dalam riwayat yang lain, "Maka setelah itu, aurat beliau tidak pernah lagi kelihatan."[7]

Di tengah-tengah kaumnya, Nabi Shallallahu 'alaihi wasalam memiliki keistimewaan dari sisi akhlak yang mulia dan sifat-sifat yang terpuji. Beliau merupakan orang yang paling utama dari sisi muru'ah (penjagaan kehormatan diri), paling baik akhlaknya, paling baik dalam bertetangga, paling lemah lembut, paling jujur bicaranya, paling lembut wataknya, paling suci jiwanya, paling dermawan dalam kebajikan, paling baik dalam beramal, paling menepati janji serta paling amanah sehingga beliau dijuluki oleh mereka dengan Al Amiin. Ini semua karena berkumpulnya kepribadian beliau yang shalih dan pekerti yang disenangi. Maka pantaslah dikatakan terhadap beliau sebagaimana yang dikatakan oleh Ummul Mu'minin, Khadijah radhiallahu 'anha, 

كلا، والله ما يخزيك الله أبدا، إنك لتصل الرحم، وتحمل الكل، وتكسب المعدوم وتقري الضيف، وتعين على نوائب الحق،

"Sekali-kali tidak... Allah sama sekali tidak akan menghinakan dirimu. Engkau selalu menyambung tali silaturrahim, membantu meringankan beban orang yang kurang mampu, memberi nafkah terhadap si yang tidak memiliki apa-apa, menjamu tetamu dan selalu menolong dalam upaya penegakan segala bentuk kebenaran.."[8]

Demikian gambaran dari ketinggian moral Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, yang ini semua tentunya merupakan penjagaan dari Allah subhanahu wata'ala dan juga persiapan diri beliau sebelum memegang tanggung jawab kerasulan.

Wallahu a'lam.

Catatan Kaki:
[1] Muhammad bin Ibrahim At Tuwaijiri, As Sirah An Nabawiyah baina Al Ma'rifah wal Wajib fi Dhau'I Al Quran wa As Sunnah, (Qasim: Dar Ashda'il Mujtama', 2017), hlm. 55.

[2] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 79.

[3]Lihat artikel berjudul "Rasulullah Ikut Membangun Ka'bah" yang kami tulis sebelum ini. 

[4] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 79.

[5] Ibid.

[6] Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Ar Rahiqul Makhtum, (Riyadh: Dar Ibnil Jauzi, 1435 H), hlm. 79-80. Beliau mengatakan, "Para ulama telah berselisih pendapat tentang keshahihan kisah ini. Al Hakim dan Adz Dzahabi menshahihkannya, sedangkan Ibnu Katsir melemahkannya dalam Al Bidayah wan Nihayah.

[7] Ibid., hlm. 80.

[8] Ibid.

Ket foto: Masjid Dzul Hulaifah

Wednesday, December 4, 2019

Barangsiapa merendahkan rambut Nabi saja langsung dihukumi kafir.

Wednesday, December 4, 2019 0

Dari Kumpulan Kitab Karya Pendiri NU HADHROTUSY SYAIKH KH. Hasyim Asy'ari

Buat yang tidak tahu artinya akan kami berikan terjemahan:

Barangsiapa menyebut Rambut Nabi dengan ditasghir "rambut kecil nabi" maka dihukumi kafir ada unsur penghinaan meskipun beralasan tidak menghina.

Barangsiapa merendahkan rambut Nabi saja langsung dihukumi kafir.

Semoga Nahdliyin masih mau membaca kitab mbah hasyim dan mengamalkan isinya. Tidak hanya fanatik buta tanpa tahu ilmunya pendiri NU.

Repost dari FP

------------
 
Catatan Damar. Design by Pocket - Fixed by Blogger templates