Wednesday, December 1, 2021

**Perbedaan antara Wing Chun dan Jeet Kune Do**

Wednesday, December 1, 2021 0



Kalau bicara Wing Chun dan Jeet Kune Do (JKD), tidak afdol kalau tidak menyebut Bruce Lee. Beliau pernah belajar Wing Chun secara formal dan kemudian hari menciptakan JKD. Bisa dibilang beliau adalah mata rantai penghubung antara kedua sistem bela diri ini.

Bruce Lee belajar Wing Chun di Hong Kong ketika berusia 16 tahun (1957). Sifu-nya tidak lain ialah Yip Man yang tersohor (yang kala itu belum terkenal). Sayangnya Lee tidak sempat menuntaskan studi Wing Chun-nya karena harus pindah sekolah di Amerika Serikat.

Dari Yip Man, Lee baru sempat mempelajari Form 1 dan 2 dari 6 Form Wing Chun Yip Man. FYI, kurikulum Wing Chun Yip Man terdiri dari enam Form: 1. Siu Lim Tao; 2. Chum Kiu; 3. Biu Ji; 4. Boneka Kayu; 5. Toya Panjang; dan 6. Golok Kembar.

Form 1, 2, 3 merupakan serangkaian Form tangan kosong yang mulanya berasal dari satu Form tunggal yang dipecah tiga. Namun pemecahan ketiganya bukan semata pemecahan sekuens, melainkan pemecahan konsep dasar. Saya kasih contoh perbandingan ketiganya dari aspek fisikal deh, yang kasat mata:

Form 1 mengajarkan gerakan lengan;

Form 2 menambahkan gerakan yang berpusat pada titik **Qihai **(Dantien bawah), antara lain kaki dan pinggang;

Form 3 menambahkan gerakan yang berpusat pada titik **Tanzhong** (Dantien tengah), antara lain tulang punggung dan bahu, sampai pergelangan dan jari jemari;

Karena pemecahannya seperti itu, ketiganya harus dipelajari sampai tuntas agar mendapatkan gambaran utuh mengenai keterampilan tangan kosong Wing Chun. Ibarat barang 3D punya panjang x lebar x tinggi.

Balik ke topik, Bruce Lee hanya mendapatkan 2 dari 3 dimensi tangan kosong Wing Chun: lengan dan kaki. Artinya kemampuan Wing Chun Bruce Lee itu 2Dimensional, tidak utuh. Ibarat macan, macan apa yang hanya terdiri dari dua dimensi? Ya macan kertas!

 Praktisi Wing Chun yang tidak dilatih dengan Biu Ji (Form 3) torsonya akan kaku: tidak punya gerakan kepala, bahunya terlalu statik, serta tidak paham konsep perpindahan pusat massa tubuh, dan konsep spesifik lainnya.

Bruce Lee sadar kekurangannya ini. Ia bahkan tidak berani menamakan bela diri yang ia ajarkan kepada teman-temannya di AS dengan sebutan Wing Chun, melainkan ia menamainya kungfu Jun Fan. Hakikatnya Jun Fan adalah Wing Chun-nya Bruce Lee yang ia modifikasi sesuai kebutuhannya.

Pada 1964 Bruce Lee berduel secara tertutup dengan **Wong Jack Man**, ahli kungfu Xingyi dan Shaolin Utara dari pecinan Oakland. Entah apa yang terjadi pada duel tersebut. Lee mengaku menang telak dalam 3 menit, sedangkan Wong mengaku Lee berbuat curang dengan berusaha mencolok matanya sehingga terjadi kejar-kejaran sampai 30an menit. Tidak jelas versi mana yang benar, tetapi yang pasti setelah itu Bruce Lee memutuskan untuk mengubah fighting style nya.

Tahun 1967 Lee merampungkan penciptaan Jeet Kune Do. Akarnya ialah kungfu Jun Fan (Wing Chun 1/3 ala Bruce Lee) yang dikawinkan dengan Tinju modern, Anggar, Judo, Taekwondo, Kali, dll. Menurut Lee sendiri, Jeet Kune Do bukan lah sebuah style, melainkan sebuah filosofi bela diri yang berujung pada self-discovery. Suatu sarana untuk mengekspresikan diri.

Ketika Lee pulang ke Hong Kong pada 1971, Lee sempat meminta Yip Man untuk mengajarinya "sisa" kurikulum Wing Chun yang belum sempat dipelajarinya. Apa alasannya? Mengapa sang pencipta JKD meminta diajari Wing Chun lagi? Namun Yip Man menolak Lee dengan halus karena tekanan dari murid-muridnya yang tidak setuju Lee mengajarkan kungfu pada orang asing.

Jadi itu latar belakangnya. Sekarang kita lihat perbandingan dan perbedaan Wing Chun dengan JKD.

Pada dasarnya keduanya memiliki lebih banyak persamaan daripada perbedaan, terutama sifat keduanya yang concept-based, bukan technique-based. Keduanya diciptakan dengan harapan membebaskan praktisi masing-masing dari kungkungan ketergantungan terhadap teknik. Menjadi free dan formless.

Keduanya mengandung banyak konsep dan prinsipil yang sama, antara lain: Teori Garis Tengah, Simultaneous Attack and Defense, konsep Gerbang, Forward Intent, dll. Keduanya juga memiliki beberapa metode serupa, misalnya Chi Sao dan Lap Sao drill.

Karena keduanya adalah bela diri concept-based, rasanya lebih fair membandingkan keduanya dari ciri konseptual daripada ciri teknikal.

• Pertama dari sisi maksud penciptaan. Wing Chun diperkiraan muncul di Tiongkok Selatan menjelang Pemberontakan Sanggul Merah (Red Turban Rebellion) dan Perang Candu Kedua. Di zaman kacau seperti itu, Wing Chun dikembangkan untuk bertahan hidup dari serangan musuh, baik dengan senjata maupun tangan kosong (kalau tidak ada senjata). Dua senjata utama Wing Chun ialah toya panjang 2,5 meter (sesungguhnya ialah galah tombak yang dicabut mata tombaknya menyisakan galah dengan ujung meruncing) dan golok kembar. Selain itu beberapa silsilah mengajarkan juga panah lempar (flying dart), pedang lurus (jian), golok panjang (guandao), dll. Jadi fokus utama Wing Chun dahulu ialah membunuh atau melumpuhkan musuh secepat mungkin dalam setting pertempuran urban di gang-gang sempit atau di atas perahu. Sedangkan JKD diciptakan pada pertengahan abad 20 di Amerika Serikat untuk pertarungan jalanan serta kompetisi. Sehingga aspek bela diri tangan kosong lebih dominan ketimbang senjata. Adapun teknik senjata JKD umumnya diserap dari stick fighting bela diri Kali, juga dari teknik nunchaku dan pisau pendek.

• Kedua, dari sisi pendekatan pengembangan skill. Meskipun sama-sama concept-based, Wing Chun dan JKD agak berbeda dalam pola pikir pendekatan terhadap keterampilan bela diri. Sistem Wing Chun berpusar pada konsep-konsep dan prinsipil biomekanika, taktikal, dan strategik yang dikodifikasi dalam Form. 

Form Wing Chun sangat aneh jika ditonton karena isinya teknik-teknik setengah jadi yang fungsi utamanya lebih sebagai alat bantu menginternalisasi konsep ketimbang jurus bertarung sungguhan. Ketika berlatih Wing Chun, isi Form harus didekonstruksi agar kemudian dikonstruksi ulang dan dimodifikasi menjadi drill yang sesuai kebutuhan (perawakan, kondisi, temperamen) praktisi. Jadi teknik Wing Chun memang dimaksudkan untuk dimodifikasi, tidak digunakan secara murni apa adanya. Sedangkan inti JKD terdapat prinsipil dasar: "praktikal, fleksibel, efisien" yang dengannya praktisinya menimbang dan menyaring teknik bela diri mana yang berguna dan cocok untuk kebutuhan diri pribadinya dan mana yang dibuang. Jadi diibaratkan konsep dan prinsipil Wing Chun itu seperti blok-blok Lego, siap dibentuk sesuai kebutuhan praktisinya: konsep memicu ide, ide menelurkan solusi. Sedangkan prinsipil inti JKD ibarat penyaring. Praktisi JKD boleh mengambil teknik dari sumber mana saja tetapi harus disaring dan diuji mana yang bisa dibuat berguna mana yang tidak.

• Ketiga, masih terkait dengan poin 2, Wing Chun sebagaimana sistem kungfu lain menggunakan Form dalam rangka melestarikan ajaran turun temurun. Bedanya Form Wing Chun lebih berfokus pada WHY ketimbang HOW, sehingga detil Form dapat diturunkan secara berbeda-beda. Contohnya murid-murid Yip Man diajari beliau dengan detil Form secara berbeda-beda satu sama lain: ketinggian teknik, sudut teknik, alignment teknik, kaki digeser, kaki diangkat, putaran konsentrik, putaran eksentrik, tumpuan bantalan kaki, tumpuan tumit, tumpuan tengah kaki, 50/50, 30/70, 40/60, dst. dst. Mindset-nya adalah: detil boleh berbeda-beda asalkan tujuan pengajaran tercapai. Sedangkan JKD digadang tidak membutuhkan Form. Praktisi JKD diberi keleluasaan menggunakan apapun yang ia ketahui asalkan efektif digunakan dan cocok dengan diri pribadinya serta selalu mematuhi prinsipil inti JKD.

• Keempat, perbedaan dari rezim conditioningnya. Conditioning Wing Chun cenderung klasikal khas Tiongkok yakni terdiri dari kultivasi qi (energi) dan yi (intent) serta penempaan tubuh eksternal dengan bantuan samsak dinding, boneka kayu, persenjataan, muifajong, dll. meskipun beberapa sifu zaman sekarang tidak melarang muridnya melakukan conditioning ala Barat. Sedangkan conditioning JKD non-klasikal dengan menggunakan metode Barat.

NB: Beberapa oknum mengatakan perbedaan Wing Chun dan JKD salah satunya di fighting range, Wing Chun cuma punya 3: kicking, striking, trapping, adapun JKD punya 4: kicking, striking, trapping, dan grappling. Artinya seakan Wing Chun tidak mengakomodir grappling. Ini tidak begitu tepat. Memang 95-98% praktisi Wing Chun di dunia saat ini sangat berfokus pada striking dan trapping. Namun kalau didalami mengapa Wing Chun memiliki cukup banyak postur lengan dan beberapa gerakan tulang punggung, bisa didapati bahwa postur-postur tersebut bisa juga digunakan untuk melahirkan teknik-teknik grappling. Hanya saja karena grappling memang lebih berisiko dilakukan dalam setting tawuran antar geng di Hong Kong 1970-80an sehingga silsilah Yip Man Hong Kong tidak meng-eksplorasi grappling dalam Wing Chun.

(Sumber seperti ditulis oleh Ray Daapala'Apa Perbedaan Wing Chun dan Jeet Kune Do?')

#WuxiaIndonesia

#PerbedaanWingChunDanJeetKuneDo

#BruceLee #YipMan
 
Catatan Damar. Design by Pocket - Fixed by Blogger templates