Monday, January 23, 2017

PERAN DAKWAH WAHABI BAGI KEMERDEKAAN INDONESIA.

Monday, January 23, 2017 0

Oleh: al-Ust Nur Cholis Agus Santoso, Dosen STAI Ali Bin Abi Thalib Sby.

Indonesia darurat wahabi, begitulah salah satu isi kicauan di akun twiter milik sholmed, da'i artis yang wara-wiri di televisi . Dia begitu "berani" mengeluarkan statment kontroversial ini. Apapun alasan yang mendasari keluarnya statment ini, sebagai masyarakat dan penduduk Indonesia terlebih masyarakat muslim harus berpikir kritis dan objektif dalam menilai sebuah gerakan dakwah, hendaknya yang dijadikan ukuran adalah subtansi dakwah tersebut, apakah sejalan dengan al qur'an dan sunnah atau tidak.

Kita menjadikan al Qur'an dan Sunnah sebagai tolak ukur dalam menilai sebuah dakwah dikarenakan landasan beragama adalah al Qur'an dan as Sunnah, sehingga jika ada sebagian gerakan dakwah yang mengajak bukan kepada al Qur'an dan as  Sunnah maka dakwahnya bukan dakwah Islam, karena sunnah adalah Islam dan Islam adalah sunnah, keduanya adalah kesatuan yang tidak dipisahkan seperti dua sisi mata uang.

Memang beberapa tahun terakhir ini isu wahabi menjadi "barang dagang" yang laris diberitakan beberapa media, anggapan gerakan wahabi sebagai gerakan dakwah yang "membahayakan" dan "mengancam" kedaulatan negara bukan kali ini saja, sholmed bukan orang pertama yang mengelurkan statment tersebut.

Beberapa da'i dari kalangan Islam "tradisional" juga kerap kali melontarkan ungkapan-ungkapan yang menyudutkan gerakan dakwah wahabi dan pengikut dakwah wahabi. Menyamakan dakwah wahabi dengan gerakan teroris, mengatakan wahabi bukan ahlu sunnah merupakan statment yang sering diulang-ulang jika "aparatur" Islam "tradisional" menyampaikan dakwah mereka.

Padahal, jika kita membaca sejarah pergerakan  di Indonesia pada zaman perjuangan, maka kita akan menemukan fakta bahwa dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ikut memberi kontribusi terhadap gerkan-gerakan kebangkitan yang ada di tanah air Indonesia.

Gerakan wahabi atau salaf pertama kali masuk ke Indonesia pada tahun 1802 M, gerkan ini dibawa oleh Haji Miskin sepulangnya dari makkah, gerakannya berupa mendakwahkan ajaran islam yang sesuai dengan al qur'an dan as sunnah sesuai pemahan salaf. Maka tidak mengherankan jika gerakan ini mendapat pertentangan dari kaum adat. Sehingga pada 10 Februari 1821 pemerintah Belanda membantu kaum adat untuk memerangi dakwah ini. Namun yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pihak kolonial belanda membantu kaum adat memerangi kaum paderi? Jawabannya karena belanda paham bahwa gerakan yang bisa merongrong kekuatan mereka di tanah air adalah gerakan dakwah islam yang bersifat pembaharuan dalam hal ini dakwah salaf.

Yang dimaksud pembaharuan adalah pemurnian dasar atau landasan beragama, mengembalikan agama kepada sumbernya al Qur'an dan as sunnah yang dipahami oleh salaf, pembaharuan seperti inilah yang ditakuti pihak kolonial belanda, adapun pembaharuan yang hanya pada cara berpikir saja maka ini merupakan pembahruan yang bersifat parsial semata yang tidak akan "mengusik" kedudukan kolonial di tanah air.

Pengaruh dakwah wahabi terhadap gerkan kemerdekaan yang lain berupa stimulus kemunculan gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia. Kita mengenal Muhammadiyah, Persis dan al Irsyad. Ketiga gerakan dakwah tersebut pada awal-awal kemunculannya merupakan gerakan dakwah tauhid, mengajarkan kembali kepada al Qur'an dan Sunnah serta memerangi bid'ah, bahkan diantara faktor kemunculan gerkan dakwah ini adalah dari pengaruh dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan murid-murid kepada para pendiri gerkan dakwah ini seperti KH Ahmad Dahlan.

Ketiga pendiri gerakan dakwah tersebut begitu terpengaruh dengan dakwah syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bahkan ada yang berguru dengan muridnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ketika berada di kota makkah, diantara bukti akan pengaruh dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab terhadap gerakan dakwah islam tersebut adalah tersebarnya kitab tauhid karangan Syaikh Muhammd di kalangan gerakan dakwah tersebut.

Bahkan KH Najih Ahyat menulis makalah khusus mengenai pengaruh kitab tauhid karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab terhadap gerakan-gerakan dakwah Islam di Indonesia khususnya Muhammadiyah, Persis dan al Irsyad.

Kita semua telah mengetahui peran yang diberikan oleh ketiga gerakan dakwah tersebut dimasa-masa kemerdekaan, dengan memahami hal ini kita harus "melek" bahwa dakwah WAHABI ikut ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan. Dan bukan merupakan bentuk berlebihan jika saya mengatakan bahwa satu-satunya dakwah yang ditakuti kolonial belanda ketika itu adalah dakwah WAHABI, hal ini bukan sebuah klaim, opini atau pendapat tapi ini adalah sebuah fakta.

Jika saudara tidak percaya silahkan saudara membaca buku THE NEW WORLD OF ISLAM yang sudah diterjemahkan dengan judul  DUNIA BARU ISLAM. Buku ini ditulis oleh L.STODDRAD dan penterjemahannya merupakan intruksi dari presiden Soekarno, bahkan beliau ikut memberi kata pengantar untuk terjemahan buku tersebut, kata pengantar beliau selesai ditulis pada 1 Januari 1966.

KEMBALI KE SHOLMED

Setelah memperhatikan catatan sejarah mengenai dakwah Salaf atau Wahabi di Tanah Air, maka jelaslah bahwa dakwah Wahabi bukan sebuah bencana yang dianggap darurat bahkan dakwah salaflah yang akan menjadikan Tanah Air ini berkah dan berwibawah dikancah internasional. kicauan Sholmet merupakan bentuk kebodohan dia terhadap dakwah Salaf, statment dia mengenai darurat Wahabi merupakan bukti kedangkalan ilmu dia, baik ilmu syariat juga ilmu mengenai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Dan dakwah salaf tidak akan pernah terusik dengan kicauannya, karena dakwah salaf adalah pohon yang kuat, yang memiliki akar yang kokoh, angin tidak mampu menjadikan pohon ini bergoyang atau merontohkan daunnya, maka bagaimana mungkin tiupan mulut sholmed bisa merobohkannya??? Hal ini tidak akan pernah terjadi -biidznillah- hingga onta masuk kelubang jarum.

Friday, January 20, 2017

Anthrax Kulon Progo hoax atau fakta?

Friday, January 20, 2017 0

Beredar broadcast seperti ini..
Tolong jangan ke daerah godean dan RSUP dr.Sardjito dulu ya karena kita bisa tidak sngaja terhirup spora bakteri anthrax yaitu Bacillus antharaxis
[20/1 09.22]‬: Jadi pasien2 yang di duga anthrax dibawa ke RSUP sardjito utk dilakukan pemeriksaan jadi disana info terkhirsudah ada 15orang yang masih dirawat ( blm meninggal) utk itu dihimbau apabila tidak ada kepetingn mendesak jgn kesana dulu meski lingkungan penderita disana sudah steril tp mencegah lebih baik
[20/1 09.23] : Pasti meninggal jkarena blm ditemukan obatnya
[20/1 09.23] : Yang bisa dilakukan dokter hanya menambah imunitas penderita utk melawan anthrax dgn suntikan 200 Iu antibootik dosis tinggi
http://jogja.tribunnews.com/2017/01/17/antraks-muncul-di-kulonprogo-16-orang-terjangkit

Fakta vs Hoax Anthrax
HOAX : Jangan makan daging sapi dan kambing di DIY
FAKTA : Boleh makan daging dengan catatan sebagai berikut :
1. Gunakan sarung tangan dan masker pada saat mengolah daging
2. Daging dimasak sempurna hingga matang sampai suhu di atas 1000C selama minimal 5-10 menit
3. Belilah daging di rumah pemotongan hewan bersertifikat
HOAX : Ada 15 pasien anthrax yang dirawat di RSUP Dr Sardjito.
FAKTA : Laporan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman menyebutkan jumlah pasien anthrax yang dirawat di RSUP Dr Sardjito hingga 20 Januari 2017 hanya satu orang. Pasien tersebut berdomisili di Godean. Namun, sampai pada saat ini, belum ada laporan keberadaan penyakit anthrax pada hewan di Godean. Investigasi sedang dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama dengan dinas terkait lainnya terkait tentang sumber penularan. 
HOAX : Jangan pergi ke daerah Godean dan RSUP Dr Sardjito karena bisa terhirup spora bakteri anthrax yaitu bacillus anthraxis.
FAKTA : Bapak/Ibu tidak perlu khawatir pergi ke Godean dan RSUP Dr. Sardjito karena tidak dapat menular dari manusia ke manusia. Anthrax merupakan penyakit menular bersumber binatang, utamanya hewan pemakan rumput. Penularannya melalui kontak dengan hewan atau  produk hewan yang terinfeksi anthrax, antara lain olahan kulit, bulu, tulang.
HOAX : Semua pasien anthrax yang dirawat pasti meninggal karena belum ditemukan obatnya. Upaya yang bisa dilakukan dokter hanya untuk menambah imunitas penderita dengan suntikan 200 IU antibiotic dosis tinggi
FAKTA: Anthrax dapat diobati dengan antibiotic dan dapat disembuhkan total. Semua fasilitas pelayanan kesehatan di Kabupaten Kulon Progo dan Kabupaten Sleman telah siap siaga untuk penanganan kasus.  

Informasi lebih lanjut :
http://www.who.int/csr/resources/publications/AnthraxGuidelines2008/en/

Tim Respon Cepat Waspada Anthrax
BEPH FK UGM

Damar Muhisa

Wednesday, January 18, 2017

CARA MENGAJARKAN TAUHID KEPADA ANAK

Wednesday, January 18, 2017 0

Bagaimana cara seorang ayah mengajarkan tauhid kepada anak-anaknya?
Jawaban:
Alhamdulillah rabbil’aalamain. Aku mendoakan shalawat dan kesalamatan kepada Nabi kita dan juga keluarga beliau, para sahabat beliau dan siapa saja yang mengikuti mereka hingga kiamat. Amma ba’du.
Mengajarkan perkara agama kepada anak-anak caranya sama seperti mengajarkan kepada orang selain mereka.
Materi yang paling bagus untuk pengajaran adalah kitab Tsalatul Ushul karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab.
Jika anak-anak mampu menghafalnya dengan hati (tanpa membaca kitab) kemudian sang ayah menjelaskan kepada mereka sesuai dengan daya tangkap anak dan nalar mereka maka hal ini akan menjadi kebaikan yang banyak.
Karena kitab Tsalatul Ushul ini dikemas dengan metode tanya jawab, menggunakan istilah yang jelas dan mudah, tidak ada yang sulit.
Kemudian selanjutnya, memperlihatkan mereka tanda-tanda kebesaran Allah untuk mengaplikasikan isi yang disebutkan di dalam kitab kecil ini.
Misalnya tentang matahari, bulan, bintang, malam, siang. Tanyakan kepada mereka:
Siapa yang mengatur (mengendalikan) matahari? Allah.
Siapa yang mengatur bulan? Allah
Siapa yang mengendalikan malam? Allah.
Siapa yang mengatur siang? Allah.
Semua alam semesta ini yang mengatur adalah Allah Azza wa Jalla.
Ajarkan pada mereka sampai pohon fitrah (pada manusia) mendapat asupan air. Karena setiap manusia itu sendiri berada diatas fitrahnya yaitu mentauhidkan Allah Azza wa Jalla.
Sebagaimana hadits Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
كل مولود يولد على الفطرة، فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه
“Setiap anak dilahirkan diatas fitrah (mentauhidkan Allah) kemudian kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashrani atau Majusi.”
Demikian juga mengajarkan wudhu kepada mereka. Bagaimana cara berwudhu dengan mencontohkan.
Hendaknya sang ayah mengatakan, ‘Begini cara berwudhu lalu mempraktekkan didepan mereka. Demikian juga cara mengajarkan shalat.
Dengan memohon pertolongan AllahTa’alaserta meminta kepada Allah agar memberi hidayah kepada mereka. Dan menghindari setiap perkataan yang menyeslisihi perbuatan dan menjauhi perbuatan haram didepan mereka. Jangan membiasakan mereka berdusta, ingkar janji dan akhlak tercela lainnya.
Meskipun sang ayah diuji dengan perbuatan buruk tersebut. Semisal jika seorang ayah diuji menjadi pecandu rokok maka jangan sekali-kali menghisapnya didepan anak-anak. Karena mereka akan terbiasa dengan rokok dan mengentengkan hukum rokok.
Perlu diketahui setiap kepala rumah tangga akan dimintai pertanggungjawaban atas anggota keluarganya. Berdasarkan firman AllahTa’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارا
“Wahai orang-orang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.”
(QS. At Tahrim: 6)
Penjagaan kita terhadap mereka dari api neraka tidaklah tercapai kecuali jika kita membiasakan mereka dengan melakukan amal shalih dan menjauhi perbuatan buruk.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menegaskan akan hal ini dalam sabda beliau,
الرجل راع في أهله ومسؤول عن رعيته
“Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya dan akan dimitai pertanggungjawaban atas mereka.”
Perlu ayah ketahui, bahwa perbaikan mereka adalah sumber kemashalatan di dunia dan akhirat. Karena manusia yang paling dekat dengan para ayah dan para ibu adalah anak-anak mereka yang shalih baik laki-laki ataupun perempuan.
إذا مات الإنسان انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له
Jika manusia mati terputuslah amalnya kecuali tiga: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shalih yang mendoakannya.”
Kami memohon kepada Allah Ta’ala agar menolong kita semua agar mampu memikul amanah dan tanggungjawab. (Silsilah Fatawa Nur Ala Darb No. 350)
Sumber: Tathbiiq Fatawa Ibn Utsaimin Lianduruwid

Dipukul Pakai Balok


Jika ada orang memukul pakai balok, apa yang harus dilakukan untuknya? Bagaimana pula jika ada yg melindunginya? Sehingg dia tidak ditangkap.
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, wa ba’du,
Allah mengajarkan satu kaidah, siapa yang melakukan kedzaliman maka dia berhak untuk dibalas dengan yang setimpal.
Allah berfirman,
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Siapa yang melakukan kebaikan maka dia mendapatkan 10 kali yang semisal. Dan siapa yang melakukan kejahatan maka dia tidak dibalas kecuali yang semisal, dan mereka tidak didzalimi. (al-An’am: 160)
Allah juga berfirman di ayat yang lain,
وَالَّذِينَ كَسَبُوا السَّيِّئَاتِ جَزَاءُ سَيِّئَةٍ بِمِثْلِهَا
“Orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal..” (QS. Yunus: 27)
Dan itulah keadilan. Siapa yang bertindak jahat, dia dibalas yang setimpal.
Karenanya, prinsip qishas yang diajarkan dalam islam, bahwa balasan disamakan dengan bentuk kejahatan.
Allah berfirman,
وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ
Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. (QS. an-Maidah: 45).
Balok Balas Balok
Jika ada orang yang memukul dengan balok, maka dia berhak untuk mendapatkan hukuman yang sama, yaitu dipukul dengan balok pula. Jika sampai patah tulang, dia juga harus dipukul hingga patah tulang.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bercerita,
أَنَّ جَارِيَةً وُجِدَ رَأْسُهَا قَدْ رُضَّ بَيْنَ حَجَرَيْنِ فَسَأَلُوهَا مَنْ صَنَعَ هَذَا بِكِ فُلاَنٌ فُلاَنٌ حَتَّى ذَكَرُوا يَهُودِيًّا فَأَوْمَتْ بِرَأْسِهَا فَأُخِذَ الْيَهُودِىُّ فَأَقَرَّ فَأَمَرَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَضَّ رَأْسُهُ بِالْحِجَارَةِ
Ada seorang wanita terkapar karena kepalanya dipukul dengan dua batu dari samping kanan-kirinya. Para sahabatpun bertanya kepadanya, siapa yang melakukan ini kepadamu, apakah si A, si B, hingga mereka menyebut nama seorang Yahudi, lalu wanita itu mengangguk. Orang yahudi itupun ditangkap. Setelah dia mengaku, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan agar kepalanya juga dipukul dengan batu. (HR. Muslim 4458 & Ibnu Hibban 5993).
Inilah keadilan. Batu balas batu, balok balas balok, dan siapapun tidak berhak untuk melindunginya, hingga korban memaafkannya.
Ada yang Melindungi
Melindungi pelaku tindak kriminal adalah kejahatan. Seharusnya dia merasa malu untuk melakukan semacam itu. Berusaha mengalihkan hukum dan kebenaran, sementara dia hanyalah seorang makhluk.
Lihatlah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Andaipun yang melakukan pelanggaran kriminal adalah Fatimah, beliau akan tetap tegakkan hukuman untuknya.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ ، وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ ، وَايْمُ اللَّهِ ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ ابْنَةَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
“Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa, karena bila terdapat pencuri dari kalangan terhormat, maka mereka membiarkan dan bila terdapat pencuri dari kalangan lemah, maka mereka menegakkan hukuman atasnya, demi Allâh Azza wa Jalla andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya.” (HR. Bukhari 3475, Muslim 4505 dan yang lainnya).
Karena itulah, Allah melaknat manusia yang melindungi pelaku kejahatan.
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melindungi muhdits.” (HR. Muslim 1978)
Siapa Muhdits?
As-Syaukani mengatakan,
قوله : ( محدثا ) بكسر الدال هو من يأتي بما فيه فساد في الأرض ، من جناية على غيره أو غير ذلك، والمؤوي له : المانع له من القصاص ونحوه
Muhdits adalah orang yang berbuat kerusakan, seperti tindak kedzaliman kepada orang lain atau semacamnya. Sementara orang yang melindungi, artinya orang yang menghalangi pihak terdzalimi untuk menuntut qishahs (balas). (Nailul Authar, 8/158).
Pelindung tidak melakukan tindak kedzaliman secara langsung. Tapi dia menjadi dzalim karena menghalangi pelaku untuk mendapatkan hukuman yang setimpal. Karena itu, dia berhak untuk mendapat laknat dari Allah.
Allahu a’lam.
Dijawab oleh Ustadz Ammi Nur Baits
Sumber: https://konsultasisyariah.com/28906-balok-balas-balok.html
===
Ingin berlangganan artikel Konsultasi Syariah? Ayoo gabung di channel telegram kami:
https://telegram.me/KonsultasiSyariah
Anda bisa membaca artikel ini melalui aplikasi Tanya Ustadz untuk Android.
Download Sekarang !! => https://goo.gl/2O8UgD

Abu Jahal / Amr bin Hisyam

Abu Jahal, nama aslinya Amr bin Hisyam, Sejak kecil sudah ada tanda ketokohan. Dia mewarisi sebagian sifat ayahnya yg suka memberi makan orang2 miskin dan menjamu tamu. Dia awalnya dijuluki dg Abul Hakam, sebab dikenal dg kecerdasan dan kebijakannya dalam memutuskan perkara. Di usia mudanya sudah diizinkan ikut dewan musyawarah. Ibnu Qutaibah berkata, "Orang Quraisy menjadikan Abu Jahal bersama sesepuh Darun Nadwah, padahal kumisnya belum tumbuh."
.
Darun Nadwah adalah tempat berkumpulnya para senior Quraisy, syaratnya minimal berumur 40 tahun, tapi Abu Jahal telah diizinkan ikut ketika umur 30 tahun, sebab punya keistimewaan tersendiri. Bahkan Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam juga mengetahui itu, sehingga sangat berharap dia masuk islam. Dalam musnad Imam Ahmad, diriwayatkan bahwa beliau Shallallahu'alaihi wasallam berdoa, "Ya Allah muliakanlah islam dengan salah satu dari dua lelaki yang paling Engkau sukai, dengan Abu Jahal atau Umar ibn Khattab." Atau dalam riwayat Tirmidzi, "Ya Allah, muliakanlah islam dengan Umar bin Khattab atau Amr bin Hisyam."
.
Sampai di sini, apa iya bisa dibayangkan Abu Jahal selalu bermuka bengis, kasar, sebagaimana imajinasi seorang Kiyai? Abu Jahal juga terkadang lebih pakai otak daripada otot. Ketika Suraqah mengkhianatinya, dia tidak berani mendatangi apalagi menghajar Suraqah, tapi dia memilih untuk menulis surat kepada Bani Mudlij agar mengganti Suraqah. Dalam waktu lain, ketika Utbah bin Rabi'ah pulang ke rumah dalam keadaan ketakutan setelah mendengar surat Fushshilat, Abu Jahal mengajak orang2 mendatangi rumah Utbah, tapi bukan mau gebukin, melainkan menawarinya harta, karena dia khawatir Utbah mulai condong kepada islam.
.
Dia malah tidak begitu spesial dalam urusan adu fisik, bahkan langsung mati di perang Badar. Dia ditokohkan lebih karena kecerdasannya, tapi kecerdasan itu justru dipakainya untuk memusuhi islam. Dan semua yg menentang dakwah para Nabi biasanya memang dari kalangan tokoh penting yg diperhitungkan.. Surat Al A'raf ayat 60, 66, 75, 88, 103, mengisyaratkan kesamaan tsb, selalu para "pemuka kaum". Fir'aun misalnya, nggak akan diperhitungkan jika cuma tukang pukul, bukan raja, dan gak mungkin jadi raja kalau nggak cerdas.
.
Maka sudah sunnatullah dari masa ke masa, yg menghambat dakwah bukanlah preman pasar, bukan begal motor, bukan perampok, melainkan justru dari kalangan intelektual, berwawasan luas, berpikiran terbuka, tulisannya banyak dikagumi. Maka hendaknya kita waspada. Sebagaimana kata tabi'in Ibnu Sirin, "Ilmu ini adalah agama, maka perhatikan dari siapa kalian mengambilnya."


https://www.facebook.com/sunggingraga/posts/10208186131470599

Siapa Sebenarnya Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ?


Memang fakta-fakta tentang Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ ini membuat heran banyak orang yang belum mengenalnya. Disini akan kami "bongkar" beberapa fakta tersebut agar anda mengetahui sosok Ustadz yang dicintai kalangan Ahlus Sunnah di Indonesia sekaligus dibenci oleh orang-orang Syi'ah dan Tarekat Sufi yang sangat suka mengkeramatkan kuburan.


FAKTA 1 : BULUGHUL MARAM.
Al-Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ yang dikenal dengan ceramahnya yang tegas ini ternyata mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Siapa sangka Ustadz Senior dari kalangan Ahlus Sunnah ini mampu menghafal kitab 'ulamaa klasik, yaitu Bulughul Maram. Kitab Bulughul Maram ini dihafal oleh Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ diluar kepada.
Padahal, kitab ini terbilang sangat lengkap karena pengarangnya, yaitu Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani رحمه الله تعالىٰ menyusun kitab ini dengan metode tematis (maudhu’i) berdasarkan tema-tema fikih, mulai dari Bab Bersuci (Thaharah) sampai Bab Kompilasi (al-Jami’). Al Hafidz Ibnu Hajar رحمه الله تعالىٰ juga menyeleksi beberapa hadits dari kitab-kitab shahih, sunan, mu’jam, dan al-Jami yang berkaitan dengan hukum-hukum fiqih. Karena keistimewaannya ini, Bulughul Maram hingga kini tetap menjadi kitab rujukan hadits yang dipakai secara luas tanpa mempedulikan mazhab fikihnya.
FAKTA 2 : 'ULAMA BESAR.
Al-Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ mempunyai hubungan murid dan guru dengan 'ulamaa yang bernama Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin رحمه الله تعالىٰ.
Beliau حفظه الله تعالىٰ sempat berguru kepada Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin رحمه الله تعالىٰ, juga diizinkan mengikuti ‪kelas‬ khusus di majelis Syaikh al-'Utsaimin. Ustadz Yazid حفظه الله تعالىٰ sangat beruntung bisa berguru secara langsung kepada Syaikh al-'Utsaimin, karena Syaikh al-'Utsaimin رحمه الله تعالىٰ adalah seorang 'ulamaa yang terkenal akan keilmuan dan faqih di dalam permasalahan agama. Syaikh al-'Utsaimin رحمه الله تعالىٰ mengajar pada Ma’had Ilmi di Unaizah, Fakultas Syari’ah dan Ushuluddin pada cabang Universitas Ibnu Su’ud di Qosim, Dekan Jurusan 'Aqidah dan aliran-aliran kontemporer, anggota bagian pengajaran di Univeritas Ibu Su’ud Qosim, dan bahkan merupakan anggota Hai’ah Kibaril Ulama’ (Majelis Ulama Besar Kerajaan Saudi Arabia)
Syaikh Ibnu 'Utsaimin رحمه الله تعالىٰ memiliki semangat dan kesungguhan yang besar dalam bidang da'wah, mengajar, menyusun buku, memberi fatwa, menulis risalah dan memberikan ceramah umum di Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan berbagai kota di Kerajaan Saudi Arabia, dengan gaya beliau yang khas dan penuh hikmah, mauizah hasanah (nasehat yang baik) dan teguh diatas Manhaj Salafush Shalih.
Tak heran Ustadz Yazid حفظه الله تعالىٰ banyak mengambil faedah dari Syaikh Muhammad bin Shalih al-'Utsaimin رحمه الله تعالىٰ sehingga banyak pujian diberikan pada Ustadz Yazid, karena sebagaimana dikisahkan oleh murid-murid Yazid Jawas, bahwa dia selalu meluangkan waktu minimal 2 sampai 4 jam setiap harinya atau bahkan lebih dari itu untuk membaca‬ kitab-kitab Islam yang bermanfaat.
FAKTA 3 : BUKU / KITAB.
Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ sudah mengarang banyak kitab atau buku. Buku terbaru yang ditulis dan diterbitkan adalah "Syarah Kitab Tauhid" dengan penerbit Pustaka Imam Asy Syafi'i. Buku tersebut menyuguhkan pembahasan tauhid secara tuntas dan benar berdasarkan dalil-dalil dari Al Qur'an dan As Sunnah serta perkataan 'ulamaa-'ulamaa Salaf yang lurus. Tulisan Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ ini merupakan ulasan atau syarah terhadap Kitab Tauhid yang terkenal. Anda juga bisa melihat gambar dari kitab karangan Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ pada tautan gambar dibawah.
http://www.ayat-kursi.com/…/buku-karangan-ustadz-yazid-jawa…
Selain buku "Syarah Kitab Tauhid", beliau حفظه الله تعالىٰ juga telah menulis buku fenomenal yang berjudul "Mulia dengan Manhaj Salaf". Dalam buku tersebut, terdapat penjelaskan prinsip-prinsip penting Manhaj Salaf, Ahlus Sunnah wal Jama'ah baik dalam 'aqidah, manhaj, da'wah, akhlak dan lainnya. Ada juga buku beliau حفظه الله تعالىٰ yang berjudul "Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah" yang sampai sekarang terus menjadi bahan kajian dan rujukan bagi ustadz-ustadz Ahlus Sunnah lain dikarenakan sangat komprehensifnya buku tersebut.
FAKTA 4 : MALAYSIA.
Di Malaysia, daurah yang mengundang Ustadz Yazid bin cAbdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ sampai saat ini masih ada. Terakhir kami ketahui, daurah Ustadz Yazid حفظه الله تعالىٰ pernah diselenggarakan pada 2014 di Masjid Al Qurtubi, Taman Seri Segambut, Kuala Lumpur. Ustadz Yazid dan Ustadz Abdul Hakim dikenal baik oleh masyarakat di negeri jiran. Hal ini dikarenakan kedua sosok ustadz ini sangat aktif dalam menulis kitab-kitab yang sesuai dengan pemahaman Salaf berbahasa Indonesia. Karena perkembangan penerbitan Indonesia yang semakin maju, buku-buku manhaj Salaf termasuk buku atau kitab karangan mereka dapat diimpor dari Indonesia menuju Malaysia.
Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله تعالىٰ sendiri dinilai sebagai pakar hadits asal Indonesia. Bagi masyarakat Ahlus Sunnah di Malaysia, mereka dinilai banyak berjasa dalam berda'wah menyebarkan 'aqidah Ahlus Sunnah di Indonesia. Juga banyak menulis buku-buku, mempunyai banyak rekaman dalam VCD maupun MP3 yang telah banyak beredar. Salah seorang saudara kami di Malaysia berkata dan memberi nasihat, yaitu :
"Bacalah karya-karya beliau, Sungguh Allah سبحانه و تعالىٰ telah menjadikan pada karyanya demikian banyak manfaat yang melimpah."
Memang benar, karya Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas dan Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat sangatlah bermanfaat.
Buku-buku Ustadz Yazid حفظه الله تعالىٰ yang laris terjual di Malaysia, seperti "Mulia dengan Manhaj Salaf", "Birrul Walidain", "Syarah 'Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah", "Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga", dan "Doa & Wirid Mengobati Guna-guna dan Sihir".
Terlebih lagi, Karya Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله تعالىٰ yang berjudul "Al Masaa'il". Sebuah kitab yang membahas permasalahan-permasalahan agama. Buku ini menghimpun sejumlah koreksi atas pemahaman tentang berbagai masalah-masalah agama yang beredar di kalangan muslimin khususnya di Indonesia dengan ditopang oleh dalil-dalil dari Al-Qur-an dan As Sunnah serta diperluas dengan pendapat dari Imam-imam Ahlus Sunnah yang terpercaya. Uraiannya dibuat secara sistematis dan dengan gaya bahasa yang mudah dicerna dengan tidak mengurangi tingkat keilmiahan Ustadz 'Abdul Hakim bin Amir Abdat حفظه الله تعالىٰ yang mengacu pada standar 'ilmu hadits.
FAKTA 5 : SEJARAH.
Pada awal tahun 2000-an, Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary (sekarang Yayasan Pendidikan Islam Al Atsary) pertama kalinya mengundang Ustadz Yazid bin 'Abdul Qadir Jawas حفظه الله تعالىٰ ke Yogyakarta. Beliau diundang berkenaan dengan acara Tabligh Akbar yang diselenggarakan di Masjid Kampus UGM yang baru jadi (beliau sebagai pemateri). Kala itu, kondisi dakwah tidak seperti sekarang ini, dimana jumlah ikhwan dan akhwat (bermanhaj Salaf) masih sangat sedikit, belum ada Radio Rodja dan Rodja TV, ma'had-ma'had dan sekolah-sekolah Salaf masih sedikit, wanita berjilbab besar apalagi bercadar masih sangat asing, celana di atas mata kaki masih sangat jarang, shaf-shaf di masjid belum rapat dan masih banyak kata sedikit atau jarang lainnya bila dikaitkan dengan kondisi dakwah pada saat itu. Kondisi da'wah pada saat itu juga sedang diuji oleh saudara-saudara kita jauh diseberang sana.
Tatkala dalam perjalanan, kami dan beberapa asatidz sempat berdiskusi dengan beliau, terutama berkaitan dengan kondisi da'wah pada saat itu. Ditengah-tengah diskusi tersebut beliau حفظه الله تعالىٰ berkata,
"Saya yakin, Insyaa Allah, da'wah Salaf akan berkembang di negeri ini."
Sebuah kalimat penuh keyakinan yang keluar pada saat kondisi da'wah diuji dengan berbagai ujian.
Kini, setelah belasan tahun berlalu, Alhamdulillah kalimat beliau حفظه الله تعالىٰ sedikit demi sedikit mulai menjadi kenyataan. Dakwah Salaf mulai berkembang dan dikenal masyarakat, wanita bercadar bukan sesuatu yang sangat asing laki, celana di atas mata kaki tidak dibilangin banjir lagi, shaf-shaf masjid mulai rapat (kami rasakan di Yogyakarta), ma'had-ma'had dan sekolah-sekolah Salaf mulai berjamuran, sarana-sarana dakwah berkembang (Radio, TV, majalah-majalah, buletin-buletin dan lain sebagainya), masyarakat berbondong-bondong dari kelas petani sampai pejabat mulai hijrah ke manhaj ini. Alhamdulillah allaadzi bini'matihi tatimmushalihaat.
Semoga Allah سبحانه و تعالىٰ merahmati Ustadz Yazid dan asatidz lainnya, dan semoga da'wah Salaf terus berkembang dan bisa diterima dengan baik oleh masyakat negeri ini walaupun akan dihadapi dengan berbagai ujian.
Aamiin.

sumber: http://www.ayat-kursi.com/2017/01/siapa-sebenarnya-ustadz-yazid-bin-abdul.html.

Sejarah pecahnya pemerintahan islam

[Antara Umayyah dan Abbasiyah]

Daulah Umayyah adalah dinasti yang raja-rajanya merupakan keturunan dari Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf. Secara nasab, ia masih terbagi menjadi dua periode, yaitu Sufyaniyah (keturunan Abu Sufyan ibn Harb, ayah dari raja pertama Islam, Mu'awiyah), dan Marwaniyah (keturunan Marwan ibnul Hakam).

Sedangkan Daulah Abbasiyah yang datang setelahnya melalui pemberontakan, adalah dinasti yang raja-rajanya merupakan keturunan Al 'Abbas bin 'Abdul Muththalib bin Hasyim bin Abdu Manaf.

Jadi, kedua dinasti ini bertemu nasabnya di Abdu Manaf. Adapun kedua putra Abdu Manaf yang menjadi nenek moyang kedua dinasti, yaitu Hasyim dan Abdu Syams, dikatakan bahwa keduanya adalah saudara kembar.

Masa Daulah Umayyah adalah 91 tahun (41 H - 132 H) dengan 14 khalifah. Sebagian ulama menafsirkan bahwa para khalifah Bani Umayyah beserta khulafaur rasyidin adalah yang dimaksudkan oleh Rasulullah pada sabda beliau:

لا يزال هذا الدين قائما حتى يكون عليكم اثنا عشر خليفة ، كلهم تجتمع عليه الأمة

"Senantiasa agama ini akan tegak sampai berlalu atas kalian 12 khalifah, umat semuanya bersepakat atas mereka." [HR Abu Dawud]

Hal ini karena selama pemerintahan Bani Umayyah, umat bersatu dalam satu kepemimpinan, hanya sempat terjadi dualisme kekuasaan ketika masa 'Abdullah ibn Az Zubair, dan itu tidak lama.

Selain itu juga karena masa Bani Umayyah masih termasuk kurunnya salaf, yaitu kurun terbaik dimana beberapa sahabat Nabi masih hidup, ilmu masih terjaga, dan kekhalifahan kuat dan mengalami perluasan yang luar biasa dari perbatasan Cina-India, sampai ke Maroko dan Andalus (Spanyol), dan untuk setiap provinsi, gubernur dipilih oleh pemerintah pusat.

Sedangkan pada masa 'Abbasiyah, sejak berdirinya justru telah ada beberapa negara yang berdiri sendiri atas rekomendasi khalifah semisal dinasti Aghlabiyah (Tunisia) dan dinasi Thahiriyah (Khurasan). Sebagian lagi memisahkan diri secara independen, semisal dinasti Umayyah (Andalus) dan Idrisiyah (Maroko).

Selanjutnya menyusul pemisahan Mesir dan Suriah pada tahun 254 H menjadi dinasti Thuluniyah, kemudian dinasti Ikhsydiyah. Adapun Thahiriyah kemudian dikalahkan oleh Bani Shaffar sehingga Khurasan menjadi milik dinasti Shaffariyah, yang selanjutnya dikuasai oleh dinasti Samaniyah. Lalu pada 297 H, muncul Dinasti Fathimiyah yang mengalahkan dinasti-dinasti di atas sehingga berkuasa di bagian barat (Maroko, Mesir, Hijaz, Suriah).

Sedangkan dua daulah besar lain: 'Abbasiyah tetap di Baghdad (Irak), dan Umayyah II tetap di Andalus. Di daerah Persia ada dinasti Buwaih, sedangkan di Mosul dan Halab ada dinasti Hamdaniyah.

Setelah itu masih ada nama-nama seperti dinasti Ghaznawiyah, dinasti Seljuk, dinasti Rustamiyah, Sajalmasah, dan Qaramithah. Kemudian Mamluk, Khawarizmiyah, Artaqiyah, Atabikiyah, Ayyubiyah, Hafsiyah dan Murabithun, serta Muwahhidun.

Pada tahun 656 Hijriyah, Baghdad diserbu pasukan Tartar (Mongol) dan khalifah 'Abbasiyah terbunuh. Ketika Tartar hendak meneruskan serangan ke Mesir, mereka terpukul mundur sehingga kembali dan hanya berkuasa di Irak, Iran, dan India, dengan kekuasaan yang dikenal dengan dinasti Ilkhaniyah, yang kemudian nantinya sebagian raja-rajanya memeluk agama Islam.

Adapun keturunan 'Abbasiyah yang selamat dari serangan, melanjutkan kekuasaannya di Mesir namun hanya berstatus sebagai khalifah bayangan (formalitas) di bawah para sultan Mamluk. Sampai pada saatnya nanti berperang dengan Bani Utsman sebagai cikal bakal Daulah Utsmaniyah.

Demikian sekelumit mengenai sejarah yang terkait dengan Dinasti Umayyah dengan Bani Abbasiyah secara umum, untuk memperluas wawasan kita mengenai dinamika kerajaan-kerajaan yang berlalu setelah khulafaur rasyidin. Umat ini telah ribuan tahun tidak berada dalam kepemimpinan tunggal, maka semoga tidak lama lagi terwujud apa yang telah disabdakan Rasulullah: kembalinya Khilafah di atas Manhaj Kenabian. Aamiin.

sumber:
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10152937157098190&id=670058189

Tentang Riwayat Yang Beredar :Berdehem Setelah Buang Hajat

Tanya Dulu "Mana Dalilnya"
Tentang Riwayat Yang Beredar :
Berdehem Setelah Buang Hajat !
---------------------------------------------------
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pertanyaan :
》Seperti yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam kita disunnahkan kencing dalamm keadaan jongkok disertai berdehem sebanyak 3 x baik wanita maupun pria. Itu semua dilakukan agar kencing kita benar-benar tuntas.
》Tapi bagaimana jika seorang pria yang telah melakukan hal tersebut terkadang beberapa saat setelah kencing, masih merasa ada air yang menetes daru kemaluannya ?
》Mohon dijelaskan lebih detail masalah sunnah buang air, baik buang air kecil maupun buang air besar Ustadz.
Wassalam
Dari Penanya : Faiz Iman Djufri
_______________________________
Wa alaikumus salam warahmatullahi wabarakatuh
Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,
Anjuran ini terdapat dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Abu Hamid al-Ghazali. Dalam buku tersebut, al-Ghazali mengatakan :
ﻭﺍﻻ ﺗﺴﺘﻨﺠﻲ ﺑﺎﻟﻤﺎﺀ ﻓﻲ ﻣﻮﺿﻊ ﻗﻀﺎﺀ ﺍﻟﺤﺎﺟﺔ، ﻭﺃﻥ ﺗﺴﺘﺒﺮﻯﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﺒﻮﻝ ﺑﺎﻟﺘﻨﺤﻨﺢ ﻭﺍﻟﻨﺘﺮ ﺛﻼﺛﺎ، ﻭﺑﺈﻣﺮﺍﺭ ﺍﻟﻴﺪ ﺍﻟﻴﺴﺮﻯ ﻋﻠﻰ ﺃﺳﻔﻞ ﺍﻟﻘﻀﻴﺐ
Tidak boleh cebok dengan air di tempat buang hajat, hendaknya menghentikan buang air kecil dengan berdehem dan disentil 3 kali, serta mengurutkan tangan kiri dari bagian bawah batang kemaluan.
(Bidayatul Hidayah , hlm. 3).
Akan tetapi disayangkan, beliau sama sekali tidak menyebutkan dalil yang menganjurkan hal ini. Dalam buku yang tipis itu, beliau hanya menyebutkan beberapa adab dalam kehidupan sehari-hari.
Satu catatan tentang Abu Hamid al-Ghazali, beliau pernah mengakui bahwa dirinya tidak mengetahui banyak hal tentang hadits.
Beliau pernah mengatakan,
ﺃﻥ ﺑﻀﺎﻋﺘﻲ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﺰﺟﺎﺓ
“Sesungguhnya bekalku dalam masalah hadits itu sedikit.” (Qanun Ta’wil hal. 16).
Untuk itulah, PARA ULAMA PAKAR HADITS,  banyak mengkritik berbagai karya al-Ghazali. Karena beliau banyak menyebutkan hadits dhaif, bahkan hadis palsu yang dijadikan dalil untuk mendukung pendapatnya.
Ketika mengupas biografi al-Ghazali, Imam ad-Dzahabi mengatakan :
ﻭﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻟﻪ ﻋﻠﻢ ﺑﺎﻵﺛﺎﺭ ﻭﻻ ﺧﺒﺮﺓ ﺑﺎﻟﺴﻨﻦ ﺍﻟﻨﺒﻮﻳﺔ ﺍﻟﻘﺎﺿﻴﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻘﻞ
“Beliau tidak memiliki ilmu tentang atsar, maupun pengetahuan tentang sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi pengendali akal manusia.”
(Siyar A’lam an-Nubala , 19/328).
Salah satu diantara karya beliau yang banyak mendapat kritikan dari para ulama adalah kitab Ihya Ulumiddin.
Ibnul Jauzi mengomentari Kitab al-Ihya :
ﻭﻣﻸﻩ ﺑﺎﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺒﺎﻃﻠﺔ ﻭﻟﻢ ﻳﻌﻠﻢ ﺑﻄﻼﻧﻬﺎ ﻭﺗﻜﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻜﺸﻒ ﻭﺧﺮﺝ ﻋﻦ ﻗﺎﻧﻮﻥ ﺍﻟﻔﻘﻪ
“Beliau penuhi dengan hadits-hadits batil, sementara beliau sendiri tidak mengetahui status cacat hadits itu. Beliau banyak berbicara tentang kasyaf, dan banyak keluar dari masalah fikih.”
(Siyar A’lam an-Nubala, 19/342).
Meskipun tidak dipungkiri bahwa beliau terkadang juga menukil berbagai hadits dari kitab shahih maupun sunan, seperti shahih Bukhari, Muslim, Sunan Nasai, Abu Daud dan yang lainnya.
Memahami kenyataan di atas, sikap yang dikedepankan adalah MEMPERTANYAKAN DALIL DAN ALASANNYA.
Dengan ini kita bisa meyakini bahwa yang beliau sampaikan adalah SEBUAH KEBENARAN.
Terkait berdehem seusai buang air dan menyentil batang kemaluan dan semacamnya, ditegaskan oleh Syaikhul Islam bahwa perbuatan itu TIDAK DISYARIATKAN dan TIDAK PERNAH DITUNTUNKAN oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Beliau mengatakan :
ﺍﻟﺘﻨﺤﻨﺢ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﻮﻝ ﻭﺍﻟﻤﺸﻲ ﻭﺍﻟﻄﻔﺮ ﺇﻟﻰ ﻓﻮﻕ ﻭﺍﻟﺼﻌﻮﺩ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﻠﻢ ﻭﺍﻟﺘﻌﻠﻖ ﻓﻲ ﺍﻟﺤﺒﻞ ﻭﺗﻔﺘﻴﺶ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺑﺈﺳﺎﻟﺘﻪ ﻭﻏﻴﺮ ﺫﻟﻚ : ﻛﻞ ﺫﻟﻚ ﺑﺪﻋﺔ ﻟﻴﺲ ﺑﻮﺍﺟﺐ ﻭﻻ ﻣﺴﺘﺤﺐ ﻋﻨﺪ ﺃﺋﻤﺔ ﺍﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﺑﻞ ﻭﻛﺬﻟﻚ ﻧﺘﺮ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺑﺪﻋﺔ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﺼﺤﻴﺢ ﻟﻢ ﻳﺸﺮﻉ ﺫﻟﻚ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ
”Berdehem setelah buang air kecil, berjalan, naik turun benda tangga atau bergelantungan di tali dan mengurut kemaluan setelah buang air, atau sikap yang tidak ada tuntunannya, semua itu adalah hal atau perkara yang baru, tidak wajib dan tidak dianjurkan menurut para ulama kaum muslimin.
Termasuk juga menyentil kemaluan, termasuk hal baru menurut pendapat yang kuat.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajarkannya.”
(Majmu’ Fatawa, 21/106).  Allahu A'lam.
Dijawab Oleh :
Ustadz Ammi Nur Baits
(Dewan Pembina KonsultasiSyariah)
https://konsultasisyariah.com/20524-berdehem-setelah-buang-hajat.html
__________________________________________
Tinggalkan Perkara Yang Tidak
Ada Tuntunannya Dari  Nabi ﷺ  ■□■□■
RePost : Telaga Sunnah

Tuesday, January 17, 2017

Sikap Al Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal terhadap penguasa dzalim

Tuesday, January 17, 2017 0

Dahulu di zaman Al Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, penguasa saat itu mengadopsi akidah mu'tazilah sehingga akidah sesat tersebut menjadi akidah resmi pemerintah. Bukan hanya hal itu, ternyata pemerintah memaksa seluruh rakyat dan ulama untuk menganut pemahaman sesat tersebut.
Pemerintah saat itu memaksa rakyat dan ulama untuk mengatakan bahwa Al Qur'an bukan kalamullah, Al Qur'an adalah makhluk dan menjadikan pemahaman ini sebagai kurikulum resmi di madrasah-madrasah, pengajian-pengajian di Masjid. Mereka juga menangkap, menyiksa bahkan menumpahkan darah siapa saja yang menolak akidah mu'tazilah tersebut.
Apakah Al Imam Ahmad bereaksi dengan melakukan pemberontakan atas kezhaliman dan kesesatan penguasa tersebut ?
Ahmad Abul Harist pernah bertanya kepada Al Imam Ahmad bin Hanbal mengenai hal ini. Ia bertanya kepada beliau mengenai fenomena fitnah yang terjadi di Baghdad ketika peristiwa itu terjadi, dan keadaan sebagian kaum yang ingin memberontak.
يا أبا عبد الله ، ما تقول في الخروج مع هؤلاء القوم
"Wahai Abu 'Abdillah (Al Imam Ahmad), apa pendapat anda jika aku memberontak bergabung bersama kaum tersebut ?"
فأنكر ذلك عليهم ، وجعل يقول : سبحان الله ! الدماء الدماء ! لا أرى ذلك ، ولا آمر به ، الصبر على ما نحن فيه خير من الفتنة يسفك فيها الدماء ، ويستباح فيها الأموال ، وينتهك فيها المحارم ، أما علمت ما كان الناس فيه ، يعني أيام الفتنة .
"Maka beliau mengingkari hal tersebut dan beliau berkata : ' Subahanallah! Darah ! Darah !, saya tidak sependapat dengan hal tersebut dan tidak pula menganjurkannya. Bersabar pada keadaan kita saat ini jauh lebih baik dari pada fitnah dan ditumpahkannya darah, dihalalkannya harta dan dijatuhkannya kehormatan. Apakah anda tidak mengatahui apa yang telah terjadi pada manusia masa silam (yaitu fitnah) ?
قلتُ : والناس اليوم، أليس هم في فتنة يا أبا عبد الله ؟
"Maka aku menjawab : Bukankah saat ini pun manusia sudah berada didalam fitnah wahai Abu 'Abdillah ?"
قال : وإن كان ، فإنما هي فتنة خاصة ، فإذا وقع السيف عمَّت الفتنة ، وانقطعت السبل ، الصبر على هذا ، ويسلم لك دينك خير لك
"Kemudian beliau menjawab : Walaupun demikian, namum ini adalah fitnah yang khusus. Apabila pedang telah terhunus, fitnah telah meluas dan jalan jalan telah tertutup, maka sabar dalam keadaan seperti saat ini dan menyelamatkan agamamu adalah lebih baik bagimu !"
ورأيته ينكر الخروج على الأئمة ، وقال: الدماء ! لا أرى ذلك ، ولا آمر به
(Kemudian Ahmad Abul Harist berkata) :
"Saya melihat beliau mengingkari memberontak terhadap para penguasa (pemerintah), dan beliau berkata : ' Darah, saya tidak sependapat dengan hal tersebut dan tidak pula memerintahkannya'."
[dikutip dari Kitab Al Wardul Maqthuf hal. 40-41 terbitan Maktabah Al Furqan]
Mengikuti pendapat Al Imam Ahmad dll dalam masalah ini tentu lebih selamat ketimbang saya mengikuti pendapat selain beliau apalagi jika dari pendapat orang orang belakangan.
Pendapat tinggallah pendapat, kita hanya bisa mempertanggung jawabkan sikap kita di hadapan Allah kelak.
Hamba Allah yang faqir
SBS, harapan Jaya Bekasi
sumber: https://www.facebook.com/abuhanifah.jandriadiyasin/posts/234599940327325

SEJARAH MASJID SALMAN ITB

Rektor mengatakan, "Kalau yang muslim minta masjid, yang komunis minta lapangan merah..."

Mari kita menilik sejarah beratnya membangun masjid kampus di masa itu. UGM saja sejauh yang saya tahu, baru membangun masjid kampus setelah reformasi di masa pak Ichlasul Amal. Luar biasa memang negeri muslim satu ini.
-----------

SEJARAH MASJID SALMAN ITB
(Sumber: WAG PojokMuslimSBM-ITB)

“Siapa itu sahabat yang menggali parit pada saat Perang Khandaq?” tanya Presiden Soekarno sambil menoleh pada orang disampingnya, Saifuddin Zuhri, Menteri Agama RI. Pertanyaan itu refleks terlontar dari mulutnya. Sang Menteri yang juga pimpinan NU dengan sigap menjawab,”Salman.” Jawabannya bersambut sang Presiden, ”Nah itu, Masjid ini saya namakan Salman!”

Ada rasa haru di sana, di antara wajah-wajah Prof. TM Soelaiman, Achmad Noeman, Achmad Sadali, dan Ajat Sudrajat yang datang jauh-jauh dari Bandung. Ahad pagi itu, kalender menunjukkan tahun 1963. Dalam ruang istana, usai santap pagi seakan semua bermula. Ketika Masjid di hadapan kampus ITB menjadi lakon. Lakon yang kini berkisah tentang dirinya.

Terdapat masa ketika seorang laki-laki yang minta izin untuk Jumatan di tengah perkuliahan dianggap ganjil. Terdapat masa ketika seorang laki-laki bersarung malah dibilang "Wah arab, nih.” Ada masanya celotehan "Eh kamu mau salat, titip salam ke Tuhan ya!" menjadi sesuatu yang lumrah.

Masa-masa itu dialami betul oleh mahasiswa-mahasiswa muslim Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 60-an. Budaya barat begitu kental di kalangan mahasiswanya. Aula Barat cukup sering dipakai oleh kegiatan berdansa-dansi. Bahkan, mahasiswa-mahasiswa muslim ITB yang masih “minat” untuk Salat Jumat pun harus bersusah payah berjalan kaki dari ITB untuk salat di Masjid Cihampelas.

Rektor ITB pada saat itu, Prof. Ir. O. Kosasih pun pada awalnya menolak rencana dibangunnya masjid di sekitar kompleks ITB. Alasannya: "Kalau orang Islam minta masjid, nanti orang komunis juga minta Lapangan Merah di ITB."

Namun kepanitiaan yang terdiri dari Prof T.M. Soelaiman, Achmad Sadali, Imaduddin Abdulrachim, Mahmud Junus, dan lain-lain tidak lantas pasang sikap menyerah. Mereka menggalang dukungan kepada siapapun yang mereka anggap kompeten. Buah usaha mereka pun terwujud.

Seorang dosen Planologi beragama Kristen, Drs. Woworuntu pun menyatakan dukungannya. Bahkan Prof. Roemond, seorang Belanda yang menjadi ketua Jurusan Arsitektur pun mendukung.
Akhirnya setelah melobi kesana-kemari, presiden saat itu, Ir. Soekarno memberikan restu akan dibentuknya Masjid Salman ITB. Rektor ITB pun terdorong pula untuk mengizinkan. Walhasil, tepat pada 5 Mei 1972, Masjid Salman ITB untuk pertama kalinya dapat dipakai untuk Salat Jumat.
Sejarah

Berikut kronologi perjalanan Masjid Salman ITB dari masa ke masa:

    19 April 1960

Panitia Masjid ITB dibentuk. Diketuai oleh Hasan Babsel Soetanegara.

    27 Mei 1960

Shalat Jumat perdana di Aula Barat ITB. Bahkan ini mungkin shalat Jumat pertama di Indonesia yang dilakukan di lingkungan kampus. Khatib: Moh. Hamron.

    Tahun 1961

Shalat Idul Fitri dan Idul Adha yang pertama di kampus ITB. Disembelih 11 ekor kambing kurban pada Idul Adha saat itu.

    13 Oktober 1962

Dimulainya perkuliahan agama di ITB. Dibuka oleh Prof. T. M. Soelaiman.

    28 Maret 1963

Dengan persetujuan Presiden ITB, Jajasan Pembina Masdjid (JPM) ITB disahkan oleh akta notaris Komar Andasasmita nomor 83. Ketua yayasan Prof. T.M. Soelaiman. Modal awal 10 ribu rupiah.

    23 April 1964

Mentri/Panglima AL Laksamana Madya Laut R.E. Martadinata dan Mentri Veteran Brigjen Sarbini shalat Idul Adha di kampus ITB.

    24 April 1964

Kasab Jendral A.H. Nasution berkunjung ke ITB atas undangan Dewan Mahasiswa (DM) ITB. Pak Nas ikut shalat Jumat di Aula Barat ITB. Malamnya sebelum ceramah Pak Nas, mahasiswa membacakan ikrar untuk membangun masjid di ITB. Pak Nas memberi dukungannya.

    4 Mei 1964

Emma Poerdiradja, anggota Dewan Penyantun ITB, mendukung pembangunan masjid ITB.

    25 Mei 1964

Walikota Bandung, Priatna Kusumah, bersedia menjadi penasehat JPM ITB.

    Kamis, 28 Mei 1964, jam 07.30

Delegasi JPM ITB yang dipimpin Prof. T.M. Soelaiman beserta Ahmad Sadali dan Ahmad Noe’man, bertemu Bung Karno di istana. Bung Karno menandatangani rancangan gambar masjid yang dibuat oleh Ahmad Noe’man dan memberi nama Salman.

    Jumat, 29 Mei 1964

Nama Salman diumumkan pada jamaah shalat Jumat.

    30 Mei 1964

Bung Karno mengirim surat dengan kop kepresidenan yang menyatakan bersedia menjadi pelindung dan memberi nama Salman.

    5 Juni 1964

Rektor ITB, Prof. Ukar Bratakusuma mengirim surat kepada Walikota Bandung tentang ijin pemakaian tanah di Jl.Ganesha untuk Masjid Salman.

    18 Juni 1964

Kepala Cabang Kejaksaan Tinggi Bandung Prijatna Abdurrasjid, SH bersedia menjadi penasehat JPM ITB.

    24 Juni 1964

Kepala Polisi Komisariat Djawa Barat bersedia menjadi penasehat JPM ITB.

    8 Juli 1964

Pembantu Rektor ITB Prof. Dr. Ir. Soemantri bersedia menjadi penasehat JPM ITB.

    29 Juli 1964

Penilikan Pembangunan dan Rumah Kotapradja Bandung mengeluarkan surat izin pendirian masjid di Jl. Ganesha.

    Akhir tahun 1964

Mushalla Salman yang dibangun Dewan Mahasiswa ITB selesai.

    27 Januari 1965

Keputusan Rektor ITB Prof. Ukar Bratakusuma bahwa JPM ITB satu-satunya yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pengumpulan dana pembangunan masjid ITB.

    6 – 13 Maret 1965

Diselenggarakan Konferensi Islam Asia Afrika (KIAA) di Bandung. JPM ITB mengundang para delegasi untuk shalat Jumat di Aula Barat ITB. Khutbah disampaikan dalam bahasa Inggris oleh Prof. T. M. Soelaiman.

    15 Juni 1965

Mukadimah, Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, dan susunan pengurus baru JPM ITB disahkan oleh notaris Komar Andasasmita. Dan ini berlaku surut sejak 1 Juni 1965. Ketua JPM ITB tetap Prof. T.M. Soelaiman.

    Selasa sore, 22 Juni 1965

Peresmian menara sekaligus peresmian Pramuka Salman. Ceramah disampaikan oleh Prof. T.M. Soelaiman dengan tema surat Al-Ashr. Hadir antara lain Wakil Gubernur Jawa Barat, Walikota bandung, wakil pangdam siliwangi dan panca tunggal jawa barat.

    4 oktober 1965

Kesatuan aksi mahasiswa indonesia (kami) dibentuk di mushalla saman

    Menjelang Ramadhan 1387 H/1967

JPM ITB mengadakan kampanye di Hotel Homann. Hadir diantaranya Buya Hamka dan istri.

    20 Agustus 1967

Walikota Bandung Kol. Inf. Djukardi memutuskan JPM ITB diberi izin untuk memanfaatkan Taman Ganesha sebagai tempat rekreasi umum, dan diberi hak untuk memungut biaya. Hasilnya digunakan untuk dana pembangunan masjid.

    4 Desember 1967

Walikota Bandung Kol. Inf. Djukardi mengirim surat kepada mentri perindustrian, tekstil, dan keradjinan rakjat Ir. sanusi untuk meminta bantuan pendirian masjid salman.

    2 Maret 1968

Pengesahan Anggaran Dasar baru di depan notaris.

    1 Mei 1968

JPM ITB diizinkan untuk mendirikan poliklinik di lingkungan Salman. Namanya Balai Pengobatan Salman ITB.

    19 Desember 1968

Rektor ITB Letkol. Ir. Kuntoadji membentuk Tim Usaha Penyelesaian Masjid Salman ITB. Tim diketuai oleh Ir.Muslimin Nasution, Wakil Ketua: Ir. M.Imaduddin A, Ir. Hasan Poerbo, Wimar Witular. Sekretaris Umum: Sjarief Tando. Bendahara: Aburizal Bakrie.

    6 Juni 1969

Pengesahan Mukadimah dan Anggaran Dasar baru di depan notaris Komar Andasasmita. Yayasan sekarang bernama Yayasan Pembina Masjid Salman ITB.

    30 Juli 1970

Memperoleh anggaran dari proyek untuk menyelesaikan atap beton 20 juta rupiah.

    Juli 1971

Pelelangan kayu jati untuk finishing Masjid Salman ITB. Juga dilakukan kemudian pekerjaan finishing yang lain.

    9 Juli 1971

Ketua Umum Yayasan Pembina Masjid Salman ITB diserahterimakan dari Prof.T.M.Soelaiman kepada Drs. Ahmad Sadali.

    5 Mei 1972

Untuk pertama kalinya Masjid Salman ITB dipakai untuk shalat Jumat. Sebelumnya dibuka oleh Rektor ITB Prof. Dr. Doddy Tisna Amidjaja. Khatib: Prof. T.M. Soelaiman. Imam: Abdul Latif Aziz. Muazzin: Endang Saifuddin Anshari.

    Tahun 1974

Latihan Mujahid Dakwah (LMD) pertama kali diadakan. Digagas oleh Dr.Ir.M. Imaduddin Abdurrahim yang akrab dipanggil Bang Imad. LMD menjadi training dakwah paling diminati pada masa itu, karena diikuti oleh para aktivis mahasiswa Islam di seluruh Indonesia. Masjid Salman ITB menjadi pelopor berdirinya masjid-masjid kampus di seluruh Indonesia.

    Tahun 1978

Kampus ITB diduduki tentara karena menolak dipilihnya kembali Soeharto sebagai presiden. Asrama Salman juga sempat diduduki. Bang Imad dipenjara selama 14 bulan karena ceramahnya di Yogyakarta yang mengkritik Presiden Soeharto.

    18 maret 1981

Karisma atau keluarga remaja islam Salman berdiri. Karisma adalah unit aktivitas pertama yang memicu lahirnya unit kegiatan lain seperti PAS, BIOTER, dan PUSTENA. kegiatan Karisma dengan mentoringnya menjadi pelopor aktivitas dan pembinaan remaja islam di indonesia.

oleh: Ust Wira Mandiri Bachrun

Monday, January 16, 2017

DUA BELAS HIKMAH POLIGAMI

Monday, January 16, 2017 0

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
1. Zina diharamkan dalam Islam secara keras, karena berbagai macam bahaya yang terkandung padanya, dan Islam memberikan solusi syar’i dengan menikah dan bolehnya memiliki istri lebih dari satu, maka melarang poligami adalah kezaliman terhadap laki-laki dan wanita, serta menyebabkan tersebarnya zina, apalagi jumlah wanita lebih banyak dari laki-laki.
2. Menikah bukan sekedar kesenangan raga, tetapi mengandung berbagai hikmah, diantaranya ketenangan batin dan memiliki anak serta mendidik mereka dengan baik, maka manakah yang lebih baik bagi wanita, dipoligami ataukah hidup menyendiri tanpa ketenangan?!
3. Islam adalah agama yang adil dan seimbang, dalam menetapkan aturan Islam memperhatikan kemaslahatan seluruh wanita, bukan satu dua orang wanita saja, jika demikian:
- Apa dosanya perawan-perawan tua dibiarkan tanpa suami?!
- Tidakkah ada pandangan kasih sayang dan kasihan kepada para janda?!
- Tidakkah kita lihat banyaknya wanita yang sampai tua tanpa suami?!
- Maka manakah lebih baik bagi wanita kalau begitu, apakah hidup sendiri atau bersama suami dan madunya?!
- Manakah yang lebih baik bagi masyarakat, terjaganya para wanita dengan bersuami ataukah membiarkan mereka menjadi para penggoda?!
- Manakah yang lebih baik bagi laki-laki, memiliki dua, tiga dan empat istri, atau memiliki 10 pacar (pasangan selingkuh, zina)?!
4. Poligami tidak wajib, dan siapa yang merasa tidak mampu berlaku adil maka tidak boleh berpoligami, kalau begitu semakin banyak wanita yang tidak bersuami apabila yang mampu berpoligami dilarang melakukannya.
5. Kesiapan wanita untuk memberikan kepuasan batin kepada suaminya tidak setiap saat, kadang terhalang haid, nifas dan lain-lain, sementara sebagian laki-laki apabila tidak terpuaskan maka bisa jadi mengantarkannya kepada zina.
6. Bisa jadi seorang istri tidak mampu lagi melahirkan, maka daripada menceraikannya lebih baik suaminya menikah lagi dengan wanita yang bisa melahirkan.
7. Bisa jadi istri memiliki suatu penyakit yang kadang menyulitkannya untuk melayani suami, maka daripada diceraikan lebih baik suaminya menikah lagi.
8. Bisa jadi istri berperangai jelek, maka daripada menceraikannya lebih baik menikah lagi dan tetap mendidik istri sebelumnya dan sebagai penjagaan terhadap anak-anak agar tidak tersia-siakan jika kedua orang tuanya bercerai.
9. Usia produktif laki-laki untuk memiliki anak lebih lama dari wanita, maka dihalanginya poligami menyebabkan umat kehilangan keturunan yang banyak, padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mewasiatkan untuk memperbanyak anak.
10. Apabila suami sedang memberikan giliran untuk istri lain maka kesempatan bagi istri yang lainnya untuk beristirahat dan bersantai, karena itulah sebagian wanita yang berakal menganjurkan suaminya untuk menikah lagi.
11. Meraih pahala yang melimpah, terlebih jika yang dinikahi adalah seorang wanita yang sangat membutuhkan nafkah, baik lahir maupun batin.
12. Yang membolehkan poligami adalah Allah ‘azza wa jalla, yang lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya dan lebih sayang kepada mereka dibanding diri-diri mereka sendiri.
[Diringkas secara makna dan sedikit penambahan dari buku yang berjudul “Qisshotul Basyariyyah” (Kisah Kemanusiaan) karya Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd hafizhahullah, disebarkan oleh Website Kementerian Wakaf Saudi Arabia, hal. 98-99, versi Asy-Syaamilah]
وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم
www.fb.com/sofyanruray.info

Tahapan Hizbiyyah oleh ust Kautsar Amru

Tahapan Hizbiyyah itu tiga menurut saya :
1. Taqlid
2. Ta'ashub
3. Tahazzub

Dari ketiga tahapan itu, hukum ta'ashub dan tahazzub itu jelas tercelanya. Sedangkan hukum taqlid itu berada di "Grey area" (Abu - abu).

Maksud Grey area adalah hukum taqlid itu tidak mutlaq haram dan tercela. Dan juga tidak mutlak wajib dan harus dilakukan setiap saat

Jika orang memang tidak faham dan tidak bisa beristinbath (mengambil faedah hukum dari suatu dalil). Maka tidak mengapa dia menyandarkan diri dan mengikuti orang yang dia anggap terpercaya serta faqih dalam masalah agama, walau kadang dia tidak memahami dalil dan argumentasi yang dipakai oleh orang yang diikutinya.

Bahkan kadang jika orang dengan tipe seperti ini hendak dijelaskan panjang lebar mengenai dalil dan argumentasi nya, dia merasa berat dan tidak membutuhkan dalil yang panjang panjang.

Baginya yang penting cukup bagaimana yang benar dalam hal ini, dalil ringkasnya gimana, dan tidak perlu analisis yang panjang panjang (karena toh saya juga nggak mudeng kosakata ilmiah yang digunakan).

Yang penting benar dan praktis. Penjelasan nya kalau bisa yang pendek saja. Ntar kalau masih ada yang nggak mudeng bisa tanya lagi kok...

***
Untuk orang seperti itu tidak masalah taqlid, mengikuti orang yang dia percaya manhaj dan Aqidah nya, sesuai dengan keperluannya untuk memahami dan menjalankan agama.

Nah yang jadi masalah adalah kadang kadang orang seperti ini kurang memahami batasan taqlid yang diperbolehkan

Kalau dimisalkan mobil, dia hanya faham teknik injak gas tapi kurang faham teknik injak rem untuk mengatur arah kemudi.

Akibatnya dia bisa jatuh ke arah Ta'ashub hingga nabrak sana dan nabrak sini.

Bahkan jika dalam tahapan lebih parah, dia bisa berubah Tahazzub dan bersikap hizbiyyah sehingga mengancam keselamatan jiwa orang lain dalam mengendarai mobil.

***
Maka dari itu taqlid itu harus dibina dan diberikan pendampingan juga agar jangan sampai menjadi taqlidul a'ma (taqlid buta), dan memunculkan metamorfosa Ta'ashub dan Tahazzub.

Kita memang tidak bisa lepas dari taqlid karena kita bukan orang yang tahu semuanya. Akan tetapi kita juga bukan orang yang harus hidup dan memahami agama hanya dengan modal taqlid saja. Karena Allah telah memberikan kita anugerah akal dan pemahaman untuk kita gunakan.

Saturday, January 14, 2017

Perbedaan Istighfar Dan Taubat

Saturday, January 14, 2017 0

Adakah perbedaan antara istighfar dan taubat? Apakah saat seroang beristighfar serta merta bisa dikatakan bertaubat?

Dua istilah yang tampak sama ini, ternyata pada hakikatnya terdapat perbedaan. Berikut perbedaannya :

Pertama : Taubat ada batas waktunya, sementara istighfar tidak ada batas waktunya.

Oleh karenanya sampai orang yang sudah meninggal masih bisa dimohonkan ampunan. Adapun taubat tak diterima ketika nyawa seorang sampai pada kerongkongan. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
bahwasanya Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ.

“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama (ruh) belum sampai di tenggorokan” (HR. Tirmidzi, dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhuma).

Oleh karenanya seorang yang telah meninggal dunia tidak ditaubatkan, namun mungkin baginya untuk dimohonkan ampunan atau didoakan istighfar. Sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Hashr :10).

Kedua : Taubat hanya bisa dilakukan oleh pelaku dosa itu sendiri, adapaun istighfar bisa dilakukan oleh pelaku dosa dan juga orang lain untuknya.

Oleh karenanya seorang anak bisa mendoakan isighfar untuk ayahnya, atau seorang sahabat kepada sahabatnya yang lain, namun tidak bisa dikatakan seorang anak men-taubatkan bapaknya atau seorang rekan men-taubatkan kawannya.

Ketiga : Taubat memiliki syarat harus berhenti dari dosa yang ditaubati. Adapun istighfar tidak disyaratkan demikian.

Oleh karenanya ada suatu masalah penting yang dikaji oleh para ulama berkaitan hal ini, yakni apakah istighfar bermanfaat tanpa taubat?

Maksudanya apabila seorang beristighfar sementara ia masih terus melakukan maksiat, apakah istighfar itu bermanfat? Misalnya seorang merokok dan ia mengakui bahwa rokok itu haram, kemudian beristighfar, namun tidak berhenti dari merokok, apajah istighfarnya tersebut dapat menghapus dosa merokok yang ia lakkan? Mengingat salahsatu syarat taubat adalah berlepas diri dari dosa yang ditaubati.

Para ulama berselisih pendapat dalam hal ini :

Pendapat pertama: istighfar tidak bermanfaat tanpa taubat. Karena istighfar adalah jalan menuju taubat. Sehingga apabila maksud tidak tercapai maka istighfar yang dilakukan menjadi sia-sia. Maka menurut ulama yang memegang pendapat ini, istighfar yang dilakukan oleh perokok pada kasus di atas tidak bermanfaat.

Pendapat kedua: istighfar bermanfaat meski pelaku belum bertaubat. Karena dalam hadis-hadis Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dibedakan antara istighfar dan taubat. Seperti hadis berikut,

وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah, sungguh diriku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari 70 kali” (Muttafaqun’alaih).

Dalam riwayat Muslim disebutkan, “… 100 kali“.

Pada hadis di atas istighfar dan taubat disebutkan secara terpisah. Menunjukkan bahwa istighfar dapat bermanfaat dengan sendirinya, meski tidak diiringi taubat.

Maka, menurut para ulama yang memegang pendapat ini, istighfar yang dilakukan oleh perokok pada kasus di atas bermanfaat. Boleh jadi Allah mengijabahi permohonan ampunnya meskipun ia belum bertaubat.

Namun ada kesimpulan yang sangat baik dari guru kami; Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili -hafidzohullah- ketika mengkompromikan dua pendapat di atas. Beliau menjelaskan bahwa istighfar ada dua keadaan :

Pertama : Istighfar / permohonan ampun untuk pelaku dosa yang dilakukan oleh orang lain.

Seperti istighfarnya Malaikat untuk orang yang duduk di tempat sholat selama wudhunya tidak batal, para Malaikat mendoakannya,

اللهم اغفرله اللهم ارحمه

“Ya Allah ampunilah dan rahmatilah dia..” (HR. Bukhori dan Muslim, dari Abu Hurairah –radhiyallahu’anhu-).

Atau istighfar anak untuk orang tuanya,

رب اغفر لي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

“Ya Tuhanku ampunilah aku dan kedua orangtuaku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku di waktu kecil“.

Nabi juga pernah memerintahkan para sahabat beliau ketika raja Najasi meninggal dunia, untuk mendoakan ampunan untuknya,

استغفروا لأخيكم

“Doakanlah istighfar untuk saudara kalian..” (HR. Bukhori dan Muslim).

Beliau juga bersabda sesuai menguburkan salah seorang sahabat beliau,

استغفروا لأخيكم واسلوا له التثبيت فإنه الآن يسأل

“Doakan istighfar untuk saudara kalian. Dan mohonkan untuknya ketetapan hati, karena dia sekarang sedang ditanya” (HR. Abu Dawud, dishahihkan oleh Al Hakim).

Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam memerintahkan istighfar untuk mayit bukan taubat untuk mayit. Mengingat perbuatan ini diperintahkan oleh syariat, menunjukkan bahwa istighfar untuk mayit dapat bermanfaat. Karena Allah tidaklah memerintahkan sesuatu kecuali perbuatan yang bermanfaat. Ini adalah kaidah yang sangat penting dalam agama kita.

Kedua : Istighfar pelaku dosa untuk darinya sendiri.

Yang tepat, istighfar seperti ini dapat bermanfat untuk pelakunya mesti ia belum bertaubat, namun, dengan syarat, istighfar tersebut muncul karena rasa takutnya kepada Allah ‘azza wa jalla yang sebenarnya dan jujur. Maka orang seperti ini berada pada dua situasi : antara takut kepada Allah dan kalah oleh hawa nafsu. Saat rasa takut muncul ia beristighfar dan saat ia dikalahkan oleh syahwatnya ia terjerumus dalam dosa, dan ia memyadari bahwa yang dilakukan adalah dosa. Istighfar untuk orang seperti ini kita katakana bermanfaat untuknya.

Adapun istighfar yang hanya di lisan, bukan karena takut kepada Allah, maka ini istighfar yang dusta. Seorang mengatakan astaghfirullah, akantetapi dalam hatinya tidak ada rasa bersalah, takut kepada Allah dan kesadaran bahwa yang dilakukan adalah dosa. Maka istighfar seperti ini tidak bermanfaat sama sekali.

Oleh karenanya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– ketika menjawab permohonan Abul Qosim al Maghribi –rahimahullah-, untuk menuliskan wasiat untuknya yang kemudian tulisan tersebut dikenal dengan Al Wasiyyah As Sughro, menyatakan,

فإن الله قد يغفر له إجابة عن دعائه، وإن لم يتب، فإذا اجتمعت الاستغفار و التوبة فهو الكمال

“Allah bisa jadi mengampuninya sebagai pengabulan atas doanya, meski ia belum bertaubat. Namun bila berkumpul antara istighfar dan taubat maka itulah yang sempurna” (Al Wasiyyah As Sughro, hal. 31. Tahqiq Sobri bin Salamah Sāhin).

Bila seorang dapat mengumpulkan istighfar dan taubat, maka itulah yang sempurna dan diharapkan. Sebagaimana Allah mengumpulkan kedua hal ini dalam firmanNya,

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat Allah. Lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka (beristighfar), siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah?! Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu (bertaubat), sedang mereka mengetahui” (QS. Ali Imron : 135).

Seperti yang dilakukan Nabi kita shallallahu’alaihi wasallam, “Demi Allah, sungguh diriku beristighfar dan bertaubat dalam sehari lebih dari 70 kali” (Muttafaqun’alaih).

Wallahua’lam bis showab…

[Tulisan ini adalah rangkuman faidah kajian Syaikh Sulaiman Ar Ruhaili –hafizhahullah– di Masjid Nabawi, saat mengkaji buku Al Wasiyyah As Sughro, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah-rahimahullah-]

***

Penulis : Ahmad Anshori

Artikel Muslim.or.id

Wednesday, January 11, 2017

Tetap taat walaupun mereka zhalim.

Wednesday, January 11, 2017 0

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ada yang bertanya :
"Ustadz, kenapa ya sebagian ikhwan kayaknya getol banget membela kebijakan Pak Jokowi...???"

Tanggapan :
Bukan membela kebijakan yang ada ya akhy, siapa yang membela... semuanya juga kecewa dengan janji-janji yang diberikan (diucapkan) ketika kampanye (dulu), kami pribadi juga kecewa dengan kondisi yang ada (saat ini).

Kita hanya berusaha memberikan berita yang adil ya akhy, tidak malah hanyut terbawa gelombang orang-orang yang suka dengan fitan (fitnah), yang dihati mereka penuh kebencian dan permusuhan dengan pemerintah.

Kita harus berusaha bersikap adil, kenaikan harga sembako itu bisa salah bisa juga benar... jangan langsung kita memvonis pasti salah dan kemudian selalu mencela (pemerintah). Di zaman para khalifah dulu juga (pernah) terjadi kenaikan harga, tapi engga (tidak) kita temukan atau (bisa dikatakan) langka sekali di kitab-kitab para 'ulamaa disebutkan  karena kenaikan harga ini, (lantas) kemudian masyarkat mencaci khalifah, kemudian terjadi makar. Karena sikap Ahlus Sunnah itu harus adil dan bijak ya akhy, disatu sisi kita engga suka dan kecewa dengan kenaikan harga yang semakin memberatkan masyarakat, tapi disisi yang lain (kita) tetap berusaha sabar, tenang, tidak gerusah-gerusuh, yang malah akan semakin menunjukkan jeleknya karakter kita, wa 'iyaadzubillah.

Toh, belum tentu juga kalau kita sendiri yang menjadi pimpinan kondisi akan lebih baik. Sekian banyak, dan sekian lama kader-kader Partai Islam yang duduk diatas sana  belum bisa juga selama ini memberikan andil yang besar untuk negeri ini. Mereka enak-enak duduk disana, digaji oleh negeri ini, kalau ke masyarakat mereka malah mencela (pemerintah) ini, harusnya mereka yang punya tanggung jawab besar menenteramkan negeri ini, bukannya malah cari aman, bermuka dua dan mengadu domba masyarakat dengan pemerintah kita, sebab bukankah mereka juga bagian dari pemerintahan?
Allahul musta'an.

Jangan menutup mata negeri ini lemah karena kelemahan diri kita sendiri ya akhy.
Lihat kondisi ummat Islam di negeri ini berapa persen yang paham Islam dengan baik... mungkin bisa 70% lebih masyarakat kita awwam akan Islam, apalagi Sunnah Rasulullah ﷺ.

Jangan terlalu muluk-muluk ya akhy, dengan kita berharap dapat pemimpin yang tegar diatas As-Sunnah Rasulullah ﷺ ketika kondisinya seperti ini.
Bahkan yang terkenal keras terhadap pemerintah saat ini mereka yang benci akan Sunnah, kita diam saja dengan kebid'ahan yang mereka lakukan, bahkan kita berangkulan mesra dengan mereka.
Allahul musta'an.

Posisi Ahlus Sunnah itu sudah sangat jelas ketika zaman fitnah yakni menghindari fitnah dan menyibukkan dengan amal shalih serta bersabar diatasnya.

Dari Abu Hurairah رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Akan terjadi fitnah yang ketika itu orang yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, dan orang yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada yang berlari. Barangsiapa yang mencari fitnah itu, maka dia akan terkena pahitnya dan barangsiapa yang menjumpai tempat berlindung maka hendaknya dia berlindung (dari fitnah tersebut)."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, VI/612, no. 3601, 3602, 7081, 7082, Muslim, no. 2886, 2887, Ahmad, no. 1369, 1523, 7464, 19587, at-Tirmidzi, no. 2194, dan Abu Dawud, no. 4256, 4257, 4258, Shahiih al-Jaami', hal. 2430)

Dari Ma'qil bin Yasar رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Beribadah di saat terjadinya fitnah seperti berhijrah kepadaku."
(Shahiih, HR. Muslim, no. 2948)

Jadi ketika fitnah itu muncul kita diperintahkan untuk menghindarinya dengan memperbanyak amal shalih yang balasan pahalanya seperti orang yang ikut berhijrah bersama Rasulullah ﷺ, bukan justru ikut nyemplung ke dalam fitnah tersebut.

Kalau kita mau memberikan nasihat berikan dengan cara yang baik, dan benar bukan dengan selalu mencela dan menggerutu dimanapun juga, seperti di media sosial (facebook) ini.

Allah ﷻ berfirman :
"Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran."
(QS. Al-'Ashr [103] : 1 - 3)

Dari Abu Ruqayyah Tamim bin 'Aus ad-Daari رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat."
Para Shahabat bertanya,
"Untuk siapa, wahai Rasulullah?"
Beliau ﷺ menjawab,
"Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan imam kaum muslimin (para penguasa kaum muslimin), dan bagi kaum muslimin pada umumnya."
(Shahiih, HR. Muslim, I/74, no. 55 [95], Ahmad, IV/102 - 103, Abu Dawud, no. 4944, an-Nasaa-i, VII/156 - 157, al-Humaidi, no. 837, Ibnu Hibbaan, no. 4555, al-Baihaqi, VIII/163, ath-Thabrani, no. 1260 - 1268, dan al-Baghawi, XIII/93, no. 3514)

Dari 'Iyadh bin Ghunm رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa (pemimpin), janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan (secara langsung di depan umum), namun hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya (yaitu menasihati dengan cara sembunyi-sembunyi dan rahasia tidak di depan umum), kalau penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik dan bila penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah melaksanakan kewajiban menyampaikan amanah yang dibebankan kepadanya."
(Shahiih, HR. Ibnu Abi 'Ashim dalam as-Sunnah, bab Kaifa Nashihatur Ra'iyyah lil Wulaat, II/507 - 508, no. 1096, 1097, 1098, Ahmad, III/403 - 404, dan al-Hakim, III/290)

Asy-Syaikh Al-'Allamah 'Abdul Aziz bin 'Abdullah bin Baaz رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Nasihat hendaklah dengan cara yang baik, tulisan yang bermanfaat dan ucapan yang berfaidah. Bukanlah termasuk nasihat dengan cara menyebarkan aib-aib manusia, dan tidak pula mengkritik kepala negara di mimbar-mimbar dan semisalnya. Akan tetapi nasihat itu engkau curahkan setiap yang bisa menghilangkan kejelekan dan mengokohkan kebaikan dengan cara-cara yang hikmah dan sarana-sarana yang di ridhai Allah سبحانه و تعالىٰ."
(Majmuu' Al-Fataawaa, VII/306)

Beliau رحمه الله تعالىٰ berkata,
"Bukan termasuk manhaj Salaf, membeberkan aib-aib penguasa, dan menyebutkannya di atas mimbar-mimbar, karena hal itu akan mengantarkan kepada ketidakstabilan (negara), sehingga masyarakat tidak mau dengar dan taat kepada pemerintah dalam perkara ma'ruf, dan mengantarkan kepada pemberontakan yang merusak dan tidak bermanfaat. Tapi metode yang dicontohkan Salaf adalah menasehati secara empat mata, menyurat, dan menghubungi para 'ulamaa (tokoh) yang memiliki akses langsung kepada penguasa, sehingga sang penguasa bisa diarahkan kepada kebaikan."
(Haqqur Ra'iy war Ra'iyyah, hal. 27, Majmuu' Al-Fataawaa, VIII/210)

Mari kita resapi ayat al-Qur-an dan hadits-hadits Nabi ﷺ ini dengan lapang dada dan nalar yang jernih untuk bisa dengan mudah menerima kebenaran, tidak malah selalu menentangnya dengan berbagai alasan yang terlalu dipaksakan :

Dari 'Abdullah bin 'Umar رضي الله تعالىٰ عنهما, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia sukai atau ia benci, kecuali apabila ia menyuruh (memerintahkan) untuk berbuat kemaksiatan. Apabila ia menyuruh (memerintahkan) untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat."
(Shahiih, HR. Al-Bukhari, no. 2796, 2955, 7144, Muslim, no. 1839, Ahmad, II/17, 142, at-Tirmidzi, no. 1707, Ibnu Majah, no. 2864 dan an-Nasaa-i, VII/160)

Di hadits yang lain Rasulullah ﷺ sudah mewanti-wanti akan datangnya zaman kita ini :

Dari Hudzaifah Ibnul Yaman رضي الله تعالىٰ عنه, ia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Akan ada setelahku para penguasa yang tidak melakukan petunjuk-petunjukku dan tidak melakukan sunnah-sunnahku. Dan akan ada diantara mereka orang-orang yang hati-hati mereka adalah hati-hati syaithan yang terdapat di jasad manusia."
Hudzaifah رضي الله تعالىٰ عنه berkata,
"Bagaimana aku harus bersikap jika aku mengalami hal seperti ini?"
Rasulullah ﷺ bersabda,
"Engkau tetap harus setia mendengar dan taat kepada pemimpin meskipun ia memukul punggungmu dan mengambil hartamu, maka tetaplah untuk setia mendengar dan taat!"
(Shahiih, HR. Muslim, no. 1837, dan Abu Dawud, no. 4244)

Ada yang mengatakan :
"Kan beda khalifah dulu dengan pemerintah muslim saat ini..."

Tanggapan :
Kami malah balik bertanya bukankah dari hadits di atas sangat jelas disebutkan pemimpin yang berhati syaithan saking kejam dan zhalimnya serta tidak mengambil sunnah (petunjuk) atau hukum Islam.
Akankah kita menolak hadits ini...

Thoyyib ya akhy, coba sebutkan perkataan para imam yang memisahkan ketaatan hanya untuk yang berhukum Islam saja secara kaffah (sempurna)... coba tolong sebutkan...
Pasti akan banyak sekali kalau memang benar ada seperti itu.

Bukankah dari dulu Saudi Arabia berhukum dengan hukum Islam juga dicela. Malah Turki, yang tidak berhukum dengan hukum Islam dipuji karena sosok presidennya yang tegas حفظه الله تعالىٰ.
Adilkah sikap kita...

Ibnu Abil 'Izz al-Hanafi رحمه الله تعالىٰ mengatakan,
"Hukum mentaati pemimpin adalah wajib, walaupun mereka berbuat zhalim (kepada kita). Jika kita keluar dari mentaati mereka maka akan timbul kerusakan yang lebih besar dari kezhaliman yang mereka perbuat. Bahkan bersabar terhadap kezhaliman mereka dapat melebur (menghapuskan) dosa-dosa dan akan melipat gandakan pahala. Allah سبحانه و تعالىٰ tidak menjadikan mereka berbuat zhalim selain disebabkan karena kerusakan yang ada pada diri kita juga. Ingatlah, yang namanya balasan sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukan (al jaza' min jinsil 'amal). Oleh karena itu, hendaklah kita bersungguh-sungguh dalam istigfar dan taubat serta berusaha mengoreksi amalan kita. Perhatikanlah firman Allah ﷻ berikut :
"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)."
(QS. Asy-Syura : [42] : 30)

Allah سبحانه و تعالىٰ berfirman :
"Dan demikianlah Kami jadikan sebagaian orang-orang zhalim sebagai pemimpin bagi orang zhalim yang lain, disebabkan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan."
(QS. Al-An'aam [6] : 129)

Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya di setiap zaman ada pemimpin yang Allah ﷻ tunjuk sesuai dengan keadaan hati masyarakatnya. Jika Allah ﷻ hendak memperbaiki masyarakat ini maka Allah tunjuk pemimpin yang baik. Dan jika Allah ﷻ hendak membinasakan mereka, Allah ﷻ tunjuk pemimpin yang zhalim."
(Shahiih, HR. Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman, IX/491)

Apabila rakyat menginginkan terbebas dari kezhaliman seorang pemimpin, maka hendaklah mereka meninggalkan kezhaliman."
(Syarh 'Aqidah Ath-Thahawiyah, hal. 381)

Dari 'Abdullah bin 'Umar رضي الله تعالىٰ عنهما, ia berkata,
"Rasulullah Muhammad ﷺ menghadap ke arah kami dan bersabda,
'Wahai sekalian kaum Muhajirin, ada lima hal yang jika kalian terjatuh ke dalamnya -dan aku berlindung kepada Allah ﷻ agar kalian tidak menjumpainya- yaitu :

1. Tidaklah nampak perbuatan zina di suatu kaum, sehingga dilakukan secara terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah-tengah mereka tha'un (wabah) dan penyakit-penyakit yang tidak pernah menjangkiti generasi (kaum) sebelumnya.

2. Tidaklah mereka mengurangi takaran dan timbangan kecuali akan ditimpa paceklik, susahnya penghidupan dan kezhaliman penguasa atas mereka.

3. Tidaklah mereka menahan zakat (tidak membayarnya) kecuali hujan dari langit akan ditahan dari mereka (hujan tidak turun ke dunia), dan sekiranya bukan karena hewan-hewan, niscaya manusia tidak akan diberi hujan.

4. Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah سبحانه و تعالىٰ dan Rasul-Nya Muhammad ﷺ, melainkan Allah ﷻ akan menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka; orang kafir) berkuasa atas mereka, lalu musuh tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.

5. Dan selama pemimpin-pemimpin mereka (kaum muslimin) tidak berhukum dengan Kitabullaah (al-Qur-anul Karim) dan mengambil yang terbaik dari apa-apa yang diturunkan oleh Allah سبحانه و تعالىٰ (syari'at Islam), melainkan Allah سبحانه و تعالىٰ akan menjadikan permusuhan di antara mereka.'"
(Shahiih, HR. Ibnu Majah, II/1332, no. 4009, al-Hakim, no. 8623, dan Abu Nu'aim, VIII/333, Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah, no. 106)

Perhatikan poin kedua dari hadits di atas!

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah رحمه الله تعالىٰ mengatakan,
"Sesungguhnya di antara hikmah Allah سبحانه و تعالىٰ dalam keputusan-Nya memilih para raja, pemimpin dan pelindung umat manusia adalah sama dengan amalan rakyatnya bahkan perbuatan rakyat seakan-akan adalah cerminan dari pemimpin dan penguasa mereka. Jika rakyat lurus, maka akan lurus juga penguasa mereka. Jika rakyat adil, maka akan adil pula penguasa mereka. Namun, jika rakyat berbuat zhalim, maka penguasa mereka akan ikut berbuat zhalim. Jika tampak tindak penipuan di tengah-tengah rakyat, maka demikian pula hal ini akan terjadi pada pemimpin mereka. Jika rakyat menolak hak-hak Allah سبحانه و تعالىٰ dan enggan memenuhinya, maka para pemimpin juga enggan melaksanakan hak-hak rakyat dan enggan menerapkannya. Jika dalam muamalah rakyat mengambil sesuatu dari orang-orang lemah, maka pemimpin mereka akan mengambil hak yang bukan haknya dari rakyatnya serta akan membebani mereka dengan tugas yang berat. Setiap yang rakyat ambil dari orang-orang lemah maka akan diambil pula oleh pemimpin mereka dari mereka dengan paksaan.
Dengan demikian setiap amal perbuatan rakyat akan tercermin pada amalan penguasa mereka. Berdasarkah hikmah Allah سبحانه و تعالىٰ, seorang pemimpin yang jahat dan keji hanyalah diangkat sebagaimana keadaan rakyatnya. Ketika masa-masa awal Islam merupakan masa terbaik, maka demikian pula pemimpin pada saat itu. Ketika rakyat mulai rusak, maka pemimpin mereka juga akan ikut rusak. Dengan demikian berdasarkan hikmah Allah سبحانه و تعالىٰ, apabila pada zaman kita ini dipimpin oleh pemimpin seperti Mu'awiyah, 'Umar bin 'Abdul Aziz, apalagi dipimpin oleh Abu Bakar ash-Shiddiq dan 'Umar bin al-Khaththab رضي الله تعالىٰ عنهم, maka tentu pemimpin kita itu sesuai dengan keadaan kita. Begitu pula pemimpin orang-orang sebelum kita tersebut akan sesuai dengan kondisi rakyat pada saat itu. Masing-masing dari kedua hal tersebut merupakan konsekuensi dan tuntunan hikmah Allah سبحانه و تعالىٰ."
(Miftah Daaris Sa'adah, II/177 - 178)

Pada masa pemerintahan 'Ali bin Abi Thalib رضي الله تعالىٰ عنه ada seseorang yang bertanya kepada beliau,
"Kenapa pada zaman kamu ini banyak terjadi pertengkaran dan fitnah (musibah), sedangkan pada zaman Abu Bakar dan 'Umar رضي الله تعالىٰ عنهما tidak?
'Ali bin Abi Thalib رضي الله تعالىٰ عنه menjawab,
"Karena pada zaman Abu Bakar dan 'Umar yang menjadi rakyatnya adalah orang-orang yang seperti aku dan para Shhabat lainnya, yang shalih dan taat. Sedangkan pada zamanku yang menjadi rakyatnya adalah orang-orang seperti kalian, yang suka ribut dan membangkang."

Oleh karena itu, untuk mengubah keadaan kaum muslimin menjadi lebih baik, maka hendaklah setiap orang mengoreksi dan mengubah dirinya sendiri, bukan mengubah penguasa yang ada. Hendaklah setiap orang mengubah dirinya yaitu dengan mengubah (memperbaiki) 'aqidah, ibadah, akhlak dan muamalahnya.

Perhatikanlah firman Allah سبحانه و تعالىٰ :
"Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar Ra'du [13] : 11)

Silahkan buka kitab-kitab para 'ulamaa agar kita tau bagaimana mereka bermuamalah dengan para pemimpin muslim sekalipun zhalim, baca Asy-Syari’ah karya Al Ajurri, As Siayasah Asy Syar'iyah Ibnu Taimiyah dan buku Ath Thuruqul Hukmiyah Fis Siyasah Asy Syar'iyah karya Ibnu Qayyim dll.

نسأل الله السلامة و العافية

Semoga Allah تبارك و‏تعالىٰ memberikan hidayah dan taufiq.

�� al-Ustadz Anton Abdillah Al Atsary حفظه الله تعالىٰ

Dengan sedikit perbaikan dan penambahan tanpa merubah makna oleh :

✍��Abu 'Aisyah Aziz Arief_

 
Catatan Damar. Design by Pocket - Fixed by Blogger templates