Friday, July 26, 2019

Sejarah Saudi, Benarkah Memberontak Turki Usmani?

Friday, July 26, 2019
Image result for saudi vs ottoman
Pemerintah kolonial Inggris melalui perwakilannya Sir Henry McManon, Kepala British High Commisioner di Kairo pernah meminta Syarif (Gubernur) Makkah Hussein bin Ali untuk melakukan pemberontakan melawan Kerajaan Turki Ottoman. Inggris menjanjikan Syarif Hussein "khalifah" baru pengganti Ottoman, yg akan memerintah wilayah yg membentang dari Allepo sampai Yaman.
Ajakan serupa sebenarnya pernah diajukan pada Abdul Aziz ibn Saud, penguasa Najd perintis negara Arab Saudi modern. Berbeda dgn Syarif Hussein, tawaran itu ditolak Ibn Saud. "Aku tak akan memerangi saudaraku seiman" begitu jawaban yg ditulisnya dalam balasan surat yg dikirimnya pada Inggris. Bagi Ibn Saud, makar itu tidak saja keji, karena bagaimanapun Hijaz dan Makkah adalah bagian dari wilayah Kesultanan Turki Ottoman, tetapi juga merupakan ancaman serius bagi Najd, karena pembentukan negara baru di bawah komando Syarif Hussein berarti menyerahkan Najd pada Inggris.

Sejak pecah PD I, Ibn Saud sebenarnya sudah mengajak Syarif Hussein dan penguasa di kawasan Arabia untuk mengambil sikap netral menjauhi intrik dgn bangsa2 kolonial eropa dan lebih fokus pada urusan intern masing2. Ajakan ini ditolak Syarif Hussein, yg kemudian melakukan pemberontakan pada Kerajaan Turki Ottoman pada thn 1916. Akhirnya, terjadilah perang antara Syarif Hussein yg didukung Inggris melawan Turki Ottoman yg didukung Jerman dan berlangsung selama 2 thn, tanpa keterlibatan Ibn Saud di sisi manapun.

Perang 2 tahun itu memberikan pengaruh besar pada peta geo-politik di timur tengah di kemudian hari. Salah satu implikasi yg terpenting adalah kejatuhan Palestina dalam genggaman Inggris, dan kekalahan Turki Ottoman memberi jalan bagi Inggris mewujudkan pembagian negara2 boneka di timur tengah sesuai perjanjian Sykes-Picot thn 1916. Perang atau pemberontakan Syarif Hussein itu juga memperlebar perseteruannya dgn penguasa Najd, Ibn Saud.
Setidaknya dua kali keduanya terlibat dalam konflik terbuka. Yg pertama terkait konflik perbatasan dan Oasis al-Khurma. Perang ini terjadi tahun 1918, dimana Pasukan al-Saud hampir saja menaklukkan Hijaz, tetapi batal terwujud atas desakan Inggris yg meminta Ibn Saud menarik pasukannya. Puncak perseteruan adalah ketika Syarif Hussein mengancam memboikot atau menutup akses ibadah Haji bagi Ibn Saud dan seluruh penduduk Najd.

That was the final feud which sparked the battle between the Syarif Hussein of the Hashemits and King Abdulaziz of alSaud in August 1924.

Pasukan berkekuatan 3000 orang dari Najd, mayoritas dari klan Utaibah berhadapan dengan pasukan Hijaz yg dikirim dari Thaif. Pertempuran seru terjadi di Al Hawiyyah, dimana pasukan Najd memukul barisan terdepan pasukan dari Thaif. Kondisi ini menjatuhkan moral pasukan lapis kedua yg kurang berpengalaman, sehingga mundur menarik diri dari Thaif.

Pada tgl 13 Oktober 1924, pasukan Ibn Saud dari Najd memasuki kota Makkah dengan sedikit perlawanan, sementara Syarif Hussain dan keluarga Hashemits melarikan diri ke Aqabah setelah kali ini Inggris ingkar janji menolak membantunya. Dari Aqabah, Syarif Hussein kemudian mengasingkan diri ke Siprus di bawah perlindungan sekutunya, Inggris. Ia meninggal di Amman dan dimakamkan di Jerussalem thn 1931.

Dan dalam konferensi Islam di Riyadh 28/29 Oktober 1924, Ibn-Saud mendapat pengakuan dunia islam sebagai pemangku sah kota Makkah. Kejatuhan Makkah ini membuat pasukan Hijaz kocar-kacir gagal mempertahankan Madinah, yg jatuh 9 Desember 1924 dan disusul Yanbu 12 hari kemudian.

Raja Abdul Aziz ibn Saud sendiri memasuki Makkah pertama kalinya dengan mengenakan pakaian ihram dan penduduk Makkah memberikan Baiat kepadanya pada 17 Desember 1924.
Jatuhnya Makkah dan Madinah dalam penguasaan Ibn Saud dapat dikatakan menandai dimulainya "proses pemurnian" dua kota suci itu, mengingat selama dalam penguasaan Turki Ottoman atau Syarif Hussein, praktek2 bidah dan khurafat marak berkembang di kota itu.

Disarikan dari:
1. 'The Middle East in the Twentieth Century' by Martin Sicker.
2. 'A Peace to End All Peace: The Fall of the Ottoman Empire and The Creation of the Modern Middle East' by David Fromkin
---
Closing remark!
Teori2 yg mengatakan Arab Saudi pernah memberontak penguasa Turki Ottoman adalah pendapat sesat rekayasa sejarah. Itu hanyalah Mitos. Mitos yg disuarakan kaum pergerakan, harakiyyun pembenci Arab Saudi semisal Ikhwanul Muslimin atau Hizbut Tahrir Lovers atau Erdogan fans. Catat!
Via Katon Kurniawan

0 comments:

 
Catatan Damar. Design by Pocket - Fixed by Blogger templates